Sabtu, 05 Desember 2009

Fraud Blink

 Seri Motivasi Tanadi Santoso

Mitra bisnis, kita akan membahas tentang apa yang disebut sebagai 'kesalahan intuisi'. Dalam mengginakan intuisi kita seharii - hari, seringkali kita mengalami apa yang disebut kesalahan intuisi. Bisa saat kita salah menilai seseorang, salah menilai kesempatan yang datang, ataupun dalam memprediksi suatu keadaan.

Misalnya saja pada saat menilai seseorang. Ada orang yang terlihat baik, jujur, dan menyenangkan ternyata lari membawa kabur uang perusahaan! Atau pada saat anda memberi pinjaman pada orang yang anda kira sudah kenal dengan baik, tapi ternyata kawan anda itu tidak mengembalikan uang anda. Apa yang terjadi? Apakah anda tidak memiliki kemampuan penilaian yang baik?

Sebetulnya, dalam kasus - kasus diatas, yang terjadi adalah ketidakmampuan kita untuk menganalisa orang tersebut secara objektif dan professional, tapi hanya menganalisanya dari sisi emosional atau sesuai dengan keadaan hati saat itu. Hal inilah yang sering menyebabkan intuisi kita dalam menilai sesuatu menjadi tidak akurat.

Pada sesi lalu kita telah membahas tentang blink, yaitu the power to think without thinking. Pada saat itu kita telah membahas bahwa blink akan sangat efektif digunakan pada bidang yang telah kita kenal dengan baik. Disini intuisi kita berjalan dengan baik untuk membuat perkiraan seperti misalnya, untuk seorang kontraktor, bisa memperkirakan kira - kira untuk membangun sebuah rumah dengan dua lantai akan membutuhkan 5 truk semen dan 8 truk pasir. Intuisi ini seringkali tepat karena kita telah terbiasa menganalisa hal- hal tersebut.

Tapi pada saat menilai seseorang atau sesuatu yang kita anggap sudah kenal baik, kita sering meleset dan tertipu. Mengapa? Apakah blink nya tidak bekerja? Sebetulnya, blink dan kemampuan intuisi anda tetap bekerja dengan baik. Hanya saja, untuk hal - hal ini, anda secara tidak sadar memasukkan faktor - faktor yang tidak ada hubungannya dan cukup menyesatkan, yang anda hubung - hubungkan untuk mendukung kesimpulan subyektif anda tadi. Dan kecenderungan ini anda lakukan tanpa sadar!

Misalnya saja, anda dididik dalam keluarga yang menyukai kerapian dan keteraturan. Anda terbiasa untuk berpakaian rapi, menyisir rambut dengan benar, bersikap sopan dan sabar, serta menunjukkan rasa hormat pada orang lain dalam setiap kesempatan. Pada saat anda bertemu dengan seseorang yang cuek, selengean, sehari - hari Cuma memakai kaos dan jeans, dan bicara ceplas - ceplos, anda akan langsung berfirasat bahwa orang ini pasti tidak beres! Padahal, bukan orangnya yang tidak benar, dia sebetulnya orang baik - baik, tapi style nya tidak sesuai dengan style 'paten' anda. Sebaliknya, bila anda bertemu dengan seseorang yang rapi dan sopan, andapun menjadi mudah tertipu meskipun sebenarnya orang itu adalah penjahat kelas kakap.

Contoh lain adalah saat anda bertemu dengan pria berambut panjang, anda akan langsung berpikir orang ini tidak rapi, playboy, tidak disiplin, dan lain - lain. Tapi bila dia memotong rambutnya, anda langsung merasa dia telah bertobat, menjadi disipin, dan sebagainya. Padahal tidak ada hubungan antara panjang rambut seorang pria dengan tingkah lakunya!


Setiap orang memiliki stereotype judgement, yaitu penilaian terhadap sesuatu berdasarkan penampilannya, yang sering menyesatkan intuisi anda. Dengan mengetahui hal ini, anda harus mulai selektif dalam memisahkan hal - hal yang sebenarnya tidak berhubungan saat memberikan penilaian terhadap sesuatu dan hanya menggunakan hal - hal yang relevan saja. Seorang psikolog akan dengan mudah menganalisa dan melakukan hal ini. Tapi bagi orang awan, kerancuan stereotype judgement ini mungkin akan sulit untuk diatasi. Maka dari itu, anda harus sering menelaah ulang apakah parameter yang anda pakai dala menilai sesuatu sudah tepat atau belum.

Demikianlah sesi kita kali ini, sekiranya dapat membantu anda meraih sukses. Sukses selalu untuk anda!

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar