Selasa, 01 Desember 2009

The Doors

The Doors: Pintu-Pintu Spiritualitas Jaman Modern

Oleh Rizal Shidiq, mahasiswa George Mason University, Washington D.C

Menjelang bulan puasa, jalanan di sekitar Tanah Kusir atau Karet biasanya macet karena banyak orang melakukan ziarah kubur. Ritual ini masih menjadi institusi penting dalam kehidupan sosial Indonesia. Tidak percaya? Lihatlah ribuan rombongan pengajian masjid yang sengaja menyewa bis untuk berziarah ke makam Walisongo. Masih tidak percaya? Jutaan orang berjejalan di terminal dan stasiun berusaha mudik tiap tahun, salah satu tujuan penting mereka adalah untuk menengok makam keluarga. Kuburan juga menjadi salah satu tema yang paling banyak digarap dalam film-film Indonesia yang baru bangkit (dari kuburnya sendiri) itu. Belum lagi sinetron.

Dulu, dengan naif dan sedikit sebal, saya pikir ini hanya terjadi di masyarakat yang sebelah kakinya masih berpijak di dunia agraris di mana kekuatan gaib –sebagai jelmaan kekuatan alam– masih dianggap menentukan mati hidup seseorang. Ketika masyarakat mengalami proses modernisasi dan beranjak ke tradisi industri di mana rasionalitas menjadi raja, ritual semacam ziarah kubur itu tidak relevan lagi. Tapi bagaimana menerangkan bahwa di London sekalipun, orang masih berdatangan ke Highgate cemetery, menyambangi makam Karl Marx –yang jelas-jelas bahkan bilang agama itu candu dunia? Atau bagaimana misalnya di Paris, Le Cimetière du Père-Lachaise didatangi orang-orang dari seluruh dunia untuk ziarah ke makam Jim Morrison, vokalis kelompok The Doors.


Sedemikian terkenalnya makam Jim Morrison itu, sampai saya ingat, sewaktu beberapa bulan lalu menonton America’s Next Top Model, –ya, betul, saya menonton reality show yang tak terlampau berguna itu–, empat calon peserta calon top model itu bertengkar hebat karena dua orang ingin berbelanja, dan dua orang lainnya ingin datang ke makam Jim Morrison. Betapa saktinya, sampai dalam kubur pun, ia masih mempesona perempuan-perempuan model muda itu.

Jim Morrison, kalau saya tidak salah, menurut Yusuf (dimainkan Nicholas Saputra) dalam film bagus besutan Riri Reza, Tiga Hari Untuk Selamanya, adalah salah satu anggota rombongan pesohor yang (sebagian memutuskan) mati pada usia rawan 27 tahun –misalnya Janis Joplin, Jimi Hendrix, Kurt Cobain, bahkan Chairil Anwar dan idola saya, Soe Hok Gie.

Gie mendeskripsikan perasaannya dengan sangat bagus dalam entry terakhir catatan hariannya, ketika ia merasa amat sepi di dalam bis kota ditemani lampu-lampu jalan Jakarta, beberapa hari sebelum ia berangkat menjemput maut di puncak Semeru. Chairil menulis: sekali berarti, habis itu mati. Kurt Cobain kelihatannya telah menggambarkan kematiannya sendiri dalam salah satu lagu di album debut Nirvana, Heart Shaped Box. Sementara Jim Morrison menulis lirik lagu “The End” sejak album debut The Doors.

Nah, tiga hari lalu, setelah sejam mengaduk-aduk rak bawah di toko semprul langganan saya itu, saya ketiban rejeki: piringan hitam album debut The Doors berjudul sama, yang nongkrong di peringkat 42 dalam RS 500 itu. Tiga setengah dollar melayang, dengan sukses.

Beberapa hari setelahnya berulangkali saya pasang album itu bolak-balik, mengejar pelajaran saya tentang salah satu kelompok legendaris peninggalan masa psikedelik yang riuh itu. Ini adalah salah satu album dengan lirik-lirik terbaik yang pernah saya dengar. Morrison, saya rasa, seorang penyair yang amat berbakat. Barangkali karena ia mengenal karya sastra serius semacam tragedi Oedipus dari Sophocles. (catatan: kalau kita perhatikan, wajah Jim Morisson agak-agak mirip dengan Rendra waktu muda). Menurut Wikipedia, nama kelompok ini pun diambil dari buku Aldous Huxley, The Doors of Perceptions, tentang pengalaman Huxley memakai narkotik jenis mescaline –obat-obatan yang juga sering disebut-sebut dalam novel gila Hunter Thompson, Fear and Loathe in Las Vegas.

Di dalam album The Doors ini ada dua lagu yang kemudian menjadi semacam signature kelompok itu: “Light My Fire” dan “The End”. “Light My Fire” adalah lagu yang asyik didengarkan. Katanya sih campuran antara rock psychedelic dan cikal bakal fusion jazz –barangkali karena di lagu, penggunaan piano elektrik amat kental. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka penggunaan alat musik keyboard atau piano elektrik –ini juga alasan mengapa saya bukan penggemar berat fusion jazz, walaupun belakangan saya mulai mengapresiasi piano Rhodes yang terdengar gendut. Tetapi di album ini saya harus akui, pemakaian piano elektrik menjadi elemen yang kuat dan bagus.

“Light My Fire” menjadi lagu yang memang memantik api kepopuleran The Doors. Walaupun sebenarnya agak-agak fatalis liriknya, lagu ini cocok didengarkan pagi-pagi sebelum berangkat kerja atau kuliah, atau apa saja, sambil minum kopi kental dan makan lontong sayur. Pada masanya lagu ini sangat laris diputar di mana-mana, walaupun seringkali dalam versi radio yang lebih pendek karena versi aslinya panjangnya hampir sebelas menit.

Walaupun begitu, yang paling menarik bagi saya justru lagu terakhir di album itu, “The End“, yang menjadi semacam kesaksian tentang akhir hidup Jim Morrison yang ironisnya ia tulis di album debutnya. Lagu itu penuh alegori tentang kematian semacam “riding the snake” yang panjangnya “seven miles”. Yang paling surreal menurut saya adalah ketika ia berseru:

The blue bus is callin’ us

The blue bus is callin’ us

Driver, where you taken’ us

Saya rasa ada semacam ketakutan yang teramat dalam di lirik itu, dan Blue Bus saya kira adalah salah satu metafor paling bagus tentang malaikat pencabut nyawa. Di bait selanjutnya Jim melawan, protes, dan berkisah:

The killer awoke before dawn, he put his boots on

He took a face from the ancient gallery

And he walked on down the hall

He went into the room where his sister lived, and…then he

Paid a visit to his brother, and then he

He walked on down the hall, and

And he came to a door…and he looked inside

Father, yes son, I want to kill you

Sebuah potongan drama tragedi yang mencekam, sebagian orang menganggapnya mengacu pada Oedipus karya Sophocles, sekaligus menjadi potongan lirik paling kontroversial pada masa itu.

Pada akhirnya, si penyair yang hebat ini ditemukan mati di bak mandi, dalam usia 27, kabarnya serangan jantung. Walaupun begitu, wajahnya yang muda dan bersih masih sering kita temukan dalam poster-poster di kamar-kamar anak muda seantero dunia. Ia telah menjadi simbol dan ikon pemberontakan. Bahkan, waktu saya salah masuk alamat website mencari kata kunci Jim Morrison dari mesin pencari, sebelum menampilkan biografi singkat Jim Morrison, kalimat pertama yang muncul adalah “Are you looking for god?”.

Nietzsche barangkali hanya bisa garuk-garuk kepala. Manusia dan pengalaman spiritualnya memang tidak pernah dengan mudah diringkus. Ketika tuhan yang tradisional dibunuh oleh Nietzsche dalam lakon Also sprach Zarathustra, muncul tuhan-tuhan baru sebangsa Jim Morrison. Selama itu pula, kuburan mungkin akan terus didatangi.

Saya ingin juga datang ke makam Jim Morrison. Iseng saja, dan siapa tahu Paris punya banyak toko vinyl yang murah-murah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar