Selasa, 01 Desember 2009

Diskografi The Rollies

ALBUM ALBUM THE ROLLIES (1969-1983)

Oleh Denny Sakrie
(seperti yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia Edisi 33 Januari 2008)

The Rollies – Pop Sound Phillips ,1969

Semua lagu dalam album debut The Rollies yang dirilis di Singapore ini merupakan cover version atas sejumlah hits mancanegara saat itu antara lain seperti “Sunny” (Bobby Hebb) maupun ”Love Of A Woman” (Samantha Sang).Tak ketinggalan pula aroma black music dari 3 hits James Brown “I Feel Good”,”It’s A Man’s Man’s Man’s World” dan “Cold Sweat”,semuanya diekspresikan oleh Bangun Soegito Tukiman yang sejak saat itu ditahbiskan sebagai James Brown Indonesia.
Istimewanya The Rollies tak sekedar sebagai grup peraga lagu saja.Mereka menginjak wilayah kreatif dengan arransemen yang lebih bernas.Makanya tak heran,banyak yang menyangka B-side Hits nya kelompok Love Affair “Gone Are The Songs Of Yesterday” adalah karya The Rollies.

Let’s Start Again – Remaco 1971

Ini album pertama Rollies di negeri sendiri setelah melanglangbuana dibeberapa kota Asia Tenggara.Cengkerama n pengaruh James Brown,The Rolling Stones hingga kelompok beralas brass seperti Blood,Sweat & Tears,Chicago maupun Tower Power kuat membekap The Rollies.Simaklah “My Iggy” yang didesahkan Deddy Sutansjah bagai kembar siam Mick Jagger.Dengar pula Gito bagai gaung ghetto membaurkan blues dan funk dalam “Let’s Start Again”.Dengan durasi sekitar 8 menit Delly menggerus kuping kita dengan aura ala John Mayall & The Blues Breakers dalam “I Had To Leave You”.
The Rollies akhirnya resmi menanggakan jubah cover version band.

The Rollies – Remaco 1972
Ditengah mengguritanya band-band pop di penjuru tanah air yang digagas Koes Plus,kehadiran The Rollies bisa menjadi oase atau mungkin sebagai pelengkap penderita saja.Band Bandung ini masih tetap berkutat dengan konsep musik hibrida .Musikalitas Benny Likumahuwa sebagai sosok yang banyak bertanggung jawab dalam departemen musik teruji disini.Rollies kokoh dalam komposisi maupun arransemen musiknya. Gito tetap bersepupu dengan James Brown lewat “Bad News”.Deddy Sutansjah tetap dibayangi Mick Jagger dalam “Come Back To Me” yang mengingatkan kita pada “Lady Jane” nya Rolling Stones.
Lalu sebuah lagu aneh “Pahlawan Revolusi” yang memempelaikan spirit jazz dengan keroncong.

Sign Of Love – Purnama Record 1973

Entah kenapa bisa terjadi salah cetak pada judul album yang seharusnya “Sign of Love” malah tercetak “Sing Of Love” .Tapi dalam musik,The Rollies tetap tak salah kaprah.Mereka tetap konsisten,walau ditendang oleh Remaco karena musiknya dianggap tidak memiliki potensi sebagai album komersiel.Album ini seolah merupakan bagian ketiga dari trilogi yang merajut album “Let’s Start Again” dan “The Rollies”.
Namun ada daya tarik lain yang mencuat disini dengan meraungnya bunyi bunyian ARP synthesizers .Delly Djoko Alipin bagai dirasuki jemari Keith Emerson dan Stevie Wonder.Dia kerap menerapkan teknik glissando.Konon,untuk pertamakalinya synthesizers dipakai dalam rekaman album musik Indonesia. Eksplorasi itu bisa disimak pada “Sign Of Love” yang riuh dan gurih. Nuansa Rolling Stones masih terasa pada lagu “When You Alone Again” yang dinyanyikan Deddy Sutansjah dengan konotasi druggy.

The Rollies Live In TIM – Hidajat Audio 1976

Bisa dianggap album live pertama dalam konstelasi musik rock Indonesia.Direkam oleh dedengkot jazz Jack Lesmana pada saat The Rollies menggelar konser dua malam berturut-turut 2 dan 3 Oktober 1976 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.Album ini seolah mengobati kerinduan penggemar The Rollies setelah 3 tahun tak merilis album satu pun.Dengan 2 personil baru Oetje F Tekol (bass) dan Jimmie Manoppo (drums),The Rollies makin terlihat kian matang dalam departemen musik.Bonnie Nurdaya menggantikan almarhum Iwan Krisnawan menyenandungkan “Salam Terakhir” yang terasa mengiris kalbu.Selebihnya The Rollies membawakan repertoire asing seperti “Free” (Chicago),”You’ re Still A Young Man” (Tower of Power),”King Arthur” (Rick Wakeman),”It’s A Man’s Man’s Man’s World” (James Brown) serta lagu yang seolah menjadi signature The Rollies “Gone Are The Songs Of Yesterday”.

Tiada Kusangka – Hidajat Audio 1976

Sederet lagu yang sebelumnya pernah mereka rekam pada album yang dirilis antara 1969-1973,kini di remake lagi dengan tata arransemen yang lebih mature dan nature.Semacam album revisited.
Ada “Gone Are The Songs Of Yesterday”,”Salam Terakhir”,”Pahlawan Revolusi”,”Love Of A Woman”,”Let’s Start Again”,”No Sad Sad Song”,Hidupku” ,”Tiada Kusangka”,”Mawar Idaman” dan “Lagu Rindu”.Pada karya instrumental “Infra Merah”,The Rollies masih menawan sebagai sebuah brass rock sohor tanah air.

Dansa Yok Dansa – Musica Studio’s 1977

Dengan memakai New Rollies mengisyaratkan bahwa ada yang berbeda dari The Rollies.Pertama, Benny Likumahuwa sebagai sosok kuat grup ini telah mengundurkan diri.Kedua,The Rollies mulai melirik lagu-lagu berkonotasi mengkhalayak atau sering disebut komersiel.Jadi tak usah heran jika “Dansa Yok Dansa” (karya Titiek Puspa) menjadi track andalan.
Alhasil,The Rollies mulai dikenal luas.
The Rollies bahkan tanpa canggung menyanyikan kembali lagu “Lembah Biru” (A.Riyanto) yang pernah dipopulerkan penyanyi berparas menawan Andi Meriem Mattalatta.

Bimbi (Vol.3) – Musica Studio’s 1978

Karya Titiek Puspa kembali diandalkan sebagai jagoan yaitu “Bimbi”,sebuah dampak urbanisasi sosial.Nuansa brass section masih bergaung walau tak seberat dahulu.Peniup saxophone The Pro’s Pomo masuk dalam formasi The Rollies .Pomo dengan alto saxophonenya menggelinjang bagai cacing kepanasan.
Oetje F Tekol mulai memperlihatkan taring sebagai hitmaker mumpuni lewat lagu “Hari Hari” dengan rhythm section ala “Just You And Me” nya Chicago.
Album ini juga diriuhkan dengan hits karya Johannes Purba “Hanya Bila Haus Di Padang Tandus” yang dikumandangkan Gito.

Kemarau – Musica Studio’s 1979

Oetje F Tekol kembali menebar pesona lewat karyanya “Kemarau” yang dinyanyikan Delly.Lagu yang aslinya bergaya country sebetulnya adalah lagu tambahan ketika album ini masih kekurangan satu lagu lagi.Di luar dugaan setelah diarransemen dengan sedikit sentuhan funk dan disusupkan unsur brass section lagu ini membahana diman-mana bahkan memperoleh penghargaan “Kalpataru” pada tahun 1979 dari Menteri Lingkungan Hidup Dr.Emil Salim,karena dianggap menaruh perhatian pada masalah lingkungan hidup.
Di album ini pula bermukim lagu asmara yang tetap hijau hingga kini yaitu “Kau Yang Kusayang” (Anto) yang dilengkingkan Delly Djoko Alipin.

Kerinduan – Musica Studio’s 1979

Album ini terasa bagaikan sequel dari album “Kemarau”.Lagu “Kerinduan” (Anto) yang dinyanyikan Delly seolah menjadi “Kau Yang Kusayang Part 2”.
Oetje F Tekol pun membuat lagu bertendensi jingoisme bertajuk “Indonesia”.
Berpanji dwiwarna
Megah perkasa
Jayalah nusantara
Jayalah negeriku selamanya
Pada interlude lagu ini tiba-tiba menyusup penggalan lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”.
Drummer Jimmie Manoppo mulai ikut bernyanyi solo pada lagu “Mereka Yang Berjasa” dan “Satu Surga”.

Pertanda – Musica Studio’s 1979

Album ini memang tak memiliki hit dahsyat seperti pada album “Dansa Yok Dansa”,”Bimbi” maupun “Kemarau”,namun Rollies masih berupaya menampilkan sesuatu yang bisa dipertanggung jawabkan.Lagu “Pertanda” karya Jimmie Manoppo adalah salah satu contohnya.Di lagu ini The Rollies seolah ingin kembali pada gaya album-album awal mereka dahulu terutama karena arransemen lagi kuat dipengruhi “Does Anybody Knows What Time Is It ?” nya Chicago Transit Authority.

Rollies ’83 – Sokha Record 1983

Ketika album ini dirilis,trend musik yang tengah mewabah adalah new wave yang banyak disusupi anasir musik reggae.Rollies mengimbuhnya dalam lagu “Mabuk Cinta” yang ditulis Harry Sabar.
Dan setelah cukup lama menghilang,The Rollies ternyata memiliki beberapa lagu andalan seperti ballada yang dinyanyikan Gito “Burung Kecil”.Termasuk lagu yang terinspirasi dari acara berita di TVRI “Dunia Dalam Derita”.
Rollies – Sokha Record 1983
Reggae kembali menjadi style musik yang digenggam The Rollies.Simaklah “Astuti” yang dinyanyikan Delly dan Gito secara duet.Sayangnya aransemen brass digarap seadanya.Tanpa gereget sama sekali.
Tapi jika mau jujur,sebetulnya energi bermusik The Rollies telah terkuras habis di album ini.Mereka lebih banyak melakukan repetisi atas lagu-lagu terdahulunya.
Setelah album ini,hingga akhir decade 80-an The Rollies masih merilis album tapi dengan semangat setengah hati.

DENNY SAKRIE

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar