Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2010

Malang Underground Cover

 Dari Grup Legenda Rock di Facebook

Benarkah kota Malang sudah rock & roll sejak tempo doeloe? Seperti apa iklim scene musik dan komunitas penggemar musik keras di wilayah lokal pada jaman baheula? Siapa saja pionir yang bertanggungjawab atas 'kecadasan' di kota dingin ini? Ini catatan historis tentang perkembangan budaya musik cadas dan komunitasnya di kota Malang. Halaman pertama dari peradaban lokal seni musik dan revolusi rock & roll yang masih terus bekerja...

Periode Pemecah Es [1970-an]

Sebenarnya benih-benih rock & roll di kota Malang sudah muncul sejak awal era '60-an, ketika bocah berusia sebelas tahun, Abadi Soesman, untuk pertama kalinya membentuk grupband bernama Irama Abadi, 1 April 1960. Masyarakat dunia saat itu sedang dihinggapi wabah musik rock & roll yang dipelopori oleh Elvis Prestley, Chuck Berry, dan The Beatles. Trend tersebut menyeberang ke Indonesia dan ikut meracuni selera anak-anak muda negeri ini.

Namun seperti yang kita ketahui, memainkan musik rock pada era orde lama masih dianggap tabu. Bentuk kesenian yang kebarat-baratan sangat dibatasi geraknya. Para musisi dan seniman otomatis susah berkembang serta makin terpojokkan. Rezim pemerintah terus mendorong masyarakat untuk menjauhi musik rock. The Beatles dilarang, bahkan Koes Plus dipenjara. Rambut panjang diharamkan, dan musik rock disebut 'musik setan'.

Anak-anak muda yang berniat untuk main musik dicap tidak punya masa depan. Mereka hampir selalu dilecehkan oleh para generasi tua, terutama calon mertua. "Dulu, pemusik adalah derajat paling rendah, dan sedikit naik tingkat setelah heboh narkoba," ungkap Abadi Soesman ketika diwawancarai Kompas, November 2006 lalu.

Malang hanyalah kota kecil yang jauh dari gemerlap industri musik seperti halnya Jakarta. Banyak remaja yang ingin sekedar main band, namun terganjal pada sarana alat musik yang mahal dan terbatas. Beberapa grup musik baru bisa berlatih dan manggung setelah didanai oleh perusahaan besar. Sebut saja nama Bentoel band atau Oepet band, yang disponsori pabrik rokok terbesar di Malang. Sejumlah band lainnya seperti Zodiak, Panca Nada, Arulan, atau Swita Rama, rata-rata juga milik perusahaan tertentu. Iklim bermusik seperti itu dirasa cukup menyedihkan serta kurang menjanjikan bagi para musisi lokal.

Selera kuping arek-arek Malang pada jaman dulu tidak pernah bergeser jauh dari genre musik keras - mulai dari yang bernuansa hardrock, slowrock, folk-rock, art-rock atau psychedelic rock sekalipun. Komposisi musik seperti yang dimainkan Led Zeppelin, Genesis, Rolling Stones, Janis Joplin, The Doors, Uriah Heep, Yes, Deep Purple, Rainbow, Pink Floyd, Rush, atau Queen adalah beberapa nama paten yang sangat digilai anak muda Malang.

"Dulu semua band di Malang memang rock. Saya dan Ian Antono punya filosofi yang sama, dan kami bersatu karena musik rock," tutur Abadi Soesman seraya menyebut nama salah satu legenda musik rock kelahiran Malang yang paling terkenal hingga sekarang.

Ian Antono lahir di Malang, 29 Oktober 1950, dengan nama asli Yusuf Antono Djojo. Sewaktu kecil ia sempat memegang instrumen ketipung dalam suatu band bocah beraliran melayu. Ian yang saat itu menyukai lagu-lagu dari The Shadows atau The Ventures, kemudian memperkuat band keluarga Zodiacs bersama kakak-kakaknya.

Pada tahun 1969, Ian hijrah ke Jakarta bersama Abadi Soesman dan bermain musik di Hotel Marcopolo. Dua tahun kemudian ia kembali ke Malang untuk bergabung dengan band Bentoel sebagai pemain drum, yang lalu beralih ke gitar. Saat itu ia mengaku terpengaruh oleh Deep Purple, Alice Cooper, Jethro Tull, Edgar Winter, dan James Gang - serta meniru segala gaya mereka mulai dari penampilan fisik, kostum, aksi panggung, bahkan sampai ke cara bermusiknya.

Bentoel kemudian menjadi salah satu kelompok musik rock yang paling populer di kota Malang. Barisan yang dimotori vokalis Micky Jaguar dan drummer Ian Antono itu terkenal eksentrik dan selalu penuh kejutan. Pada tahun 1972, mereka diundang tampil membuka konser Victor Wood di Gelora Pancasila, Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, Micky Jaguar melakukan atraksi panggung yang sensasional. Sembari menyanyikan lagu John Barlecon [Traffic], ia menyembelih seekor kelinci dan meminum darahnya. Gara-gara atraksinya itu, ia terpaksa berurusan dengan pihak berwajib.

Sayangnya Bentoel tidak berumur panjang dan tidak sempat merekam apa-apa. Pada tahun 1974, Ian Antono diminta Ahmad Albar untuk kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Godbless. Di kelompok itu, Ian mulai coba-coba menulis lagu dan menata musik untuk album Huma di Atas Bukit [1976]. Baginya, ada semacam proses transformasi dari sekadar bermain menuju ke tahap penciptaan. Hingga kemudian nama Ian Antono juga dikenal sebagai penulis lagu dan penata musik untuk sekitar 400-an lagu yang dimainkan Godbless, Duo Kribo, Ucok Harahap, Nicky Astria, Iwan Fals, Anggun Cipta Sasmi, hingga Grace Simon.

Sementara itu, bubarnya Bentoel memaksa vokalis Micky Jaguar bergabung dalam Ogle Eyes, grup musik yang juga diperkuat oleh mantan personil Giant Step [Bandung], keyboardist Jocky Soerjoprayogo dan drummer Sammy Zakaria. Ia juga sempat memulai karir solonya dengan merekam album bertitel Metropolitan [Prawita records]. Pada rilisan tersebut, ia berduet dengan Sylvia Saartje di lagu yang berjudul Wanita. Saat ini, kaset solo Micky Jaguar menjadi barang langka dan collector item yang bernilai tinggi.

Nama sang ladyrocker, Silvia Saartje, tentu cukup populer bagi penggemar musik rock lokal. Penyanyi rock kelahiran Arnheim [Belanda] yang bermukim di Malang ini sempat tenar lewat singel Biarawati ciptaan Ian Antono. Di kala manggung, perempuan ini selalu memakai kostum yang agak seronok dan menghebohkan. Salah satu pentasnya yang paling diingat publik Malang adalah ketika membantu Elpamas dalam mengkover lagu Pink Floyd yang terkenal sangat rumit, The Great Gig In The Sky. Selama karirnya, Sylvia Saartje telah menelurkan tujuh buah rekaman. Ia juga sempat tampil sebagai penyanyi dalam film Kodrat garapan Slamet Raharjo. Beberapa tahun terakhir ini, namanya terkadang masih mondar-mandir mengisi program musik rock dan blues di sebuah stasiun televisi.

Selama era '70-an, beberapa musisi lokal mulai terpikir untuk hijrah ke ibukota. "Dulu, Jakarta itu seperti luar negeri," kenang Abadi Soesman. Sebagai pusat industri, Jakarta memang menarik dan lebih terbuka bagi peluang karir di bidang musik. Mitos klasik bahwa musisi daerah kalau ingin sukses musti hijrah ke ibukota memang tidak bisa dipungkiri, dan hampir benar adanya. Sentralisasi industri musik nasional malah cenderung melanggengkan keabsahan rumus yang terkadang masih berlaku hingga sekarang itu.

Sementara evolusi rock & roll di kota Malang terus berjalan. Band-band baru bermunculan dari berbagai ajang festival dan parade musik lokal. Aksi mereka juga selaras dengan kebiasaan band rock nasional generasi awal - seperti Cockpit [Jakarta], Trencem [Solo] Godbless [Jakarta], Giant Step [Bandung] atau AKA/SAS [Surabaya] - yang lebih sering membawakan karya lagu musisi luar dan cenderung malas menulis lagu sendiri. Makanya hanya sedikit sekali rekaman album bahkan sekedar demo yang dirilis pada jaman itu.

Selera pasar dan kebiasaan musisi yang terlalu 'memuja band asing' itu akhirnya memberi imbas di setiap pertunjukan musik. Penonton hampir selalu menuntut band yang tampil di panggung untuk bermain 'persis kaset' istilahnya. Mereka hanya ingin mendengar lagu favoritnya dan tidak peduli pada lagu ciptaan musisi lokal. Akibatnya, hanya sedikit band yang mau menulis dan mengusung karya ciptaannya sendiri. Selebihnya tidak ada jalan lain kecuali tampil sempurna membawakan lagu kover yang jadi favorit penonton.

Kondisi di atas membuat sejumlah band lokal menjadi band spesialis yang identik dengan band asing panutannya. Misalkan saja Micky Jaguar layaknya seorang Mick Jagger dengan gaya urakan ala Ozzy Osbourne. Bahkan Sylvia Saartje sempat dianggap titisannya Jonis Joplin. Hingga musisi yang lebih yunior macam Elpamas yang hanya akan mendapat aplaus jika membawakan komposisi dari Pink Floyd.

"Wah, sejak dulu Malang itu kota yang paling ditakuti ama band-band Jakarta. Penontonnya kritis, salah dikit aja langsung ditimpukin!" ujar Jaya, gitaris grupband Roxx yang sempat ditemui penulis saat event Soundrenaline 2004 di Stadion Gajayana Malang. "Malah dulu belum layak disebut rocker kalo belum pernah konser di Malang. Emang terbukti, aura rock-nya masih terasa banget sampe sekarang!"

Sudah banyak kisah musisi rock lokal maupun nasional yang coba 'menaklukan' hati dan telinga penonton Malang yang terkenal agak liar dan suka rusuh. Sebagian memang cukup berhasil, namun lebih banyak di antaranya yang gagal total. Band yang tidak mampu memuaskan penonton akan sangat beruntung jika hanya mendapat cemooh dan caci-maki saja. Sebagian malah bernasib lebih buruk, menerima lemparan benda-benda aneh dari penonton dan dipaksa turun dari panggung.

Sejak era '70-an, tempat pertunjukan [venue] yang sering dipakai ajang konser rock adalah GOR Pulosari yang terletak di bilangan jalan Kawi. Desain arsitektur gedung tersebut cukup unik dan sangat 'bawah tanah' sekali. Venue itu dibangun pada cerukan tanah yang dalam, serta dikelilingi tribun kayu yang mengelilingi panggung besar di bawahnya. Konstruksi seperti itu menjadikan GOR Pulosari sebagai hall yang kedap suara, serta dianggap memiliki akustik yang cemerlang untuk sebuah pertunjukan musik. Sejumlah nama mulai dari Panbers, Trencem, Bentoel, Cockpit, Sylvia Saartje, hingga Godbless sudah pernah menjajal GOR Pulosari yang dikenal sangat prestisius untuk konser musik rock.

Cockpit termasuk band yang sempat mendulang histeria massa ketika tampil di Pulosari. "Wah, dulu kalo Cockpit manggung bawain lagunya Genesis, vokalis Freddy Tamaela gak perlu nyanyi lagi, sebab penonton satu gedung udah nyanyi semua saking hapalnya!" cerita beberapa orang lawas yang pernah mengalami serunya pertunjukan musik lokal tempo doeloe. Di lokasi yang sama, Micky Jaguar pernah meminum darah kelinci dan langsung ditahan aparat begitu turun dari panggung. Boleh dibilang, manggung di GOR Pulosari bisa menjadi pengalaman terbaik atau yang terburuk bagi setiap musisi manapun.

Angkernya venue yang berkapasitas 5000 penonton itu juga diamini oleh Viva Permadi alias Wiwie GV, seorang musisi/aranjer asal Malang. Dalam wawancaranya dengan Kompas [12 November 2006], ia menganggap GOR Pulosari ibarat pengadilan publik untuk menilai sukses atau tidaknya sebuah band ketika manggung. Ia terkenang sewaktu Godbless manggung di sana pada tahun 1979. Penonton ketika itu tidak puas dengan penampilan Ahmad Albar dkk. Mereka lalu mengamuk dan melempar apapun ke arah panggung. Akhirnya ia mengambil kesimpulan, kalau sebuah band pentas di Malang sampai tidak rusuh, berarti grupband itu berhasil.

Pada dasarnya, dekade '70-an telah mencatat suatu babak awal yang seru dari evolusi rock & roll di kota Malang. Munculnya berbagai aktifitas band dan musisi rock, pertunjukan musik, penonton konser yang seru [dalam konotasi yang aman maupun rusuh!], atau sekedar hura-hura urakan ala anak muda telah membuka wacana baru bagi masyarakat awam. Perlahan, publik mulai mengenal konsep 'rock & roll' baik secara musikal, penampilan, maupun pola pikir. Stigma dan dogma kuno telah mencair. Atau mungkin akan membatu kembali dalam suasana yang lebih baik di masa yang selanjutnya...

mungkin anda bisa belajar dari sejarah!...

Selasa, 08 Desember 2009

Yngwie J Malmsteen - Neo Classical Guitar Player


Yngwie Johann Malmsteen (pengucapan /ˈɪŋveɪ ˈmɑːlmstiːn/ dalam Bahasa Inggris) (lahir dengan nama Lars Johan Yngve Lannerbäck lahir di Stockholm, Swedia, 30 Juni 1963; umur 46 tahun) adalah seorang gitarisSwedia, penggubah lagu, ahli berbagai macam instrumen dan pemimpin grupband. Malmsteen menjadi terkenal di era 1980-an karena keahlian teknkal dalam komposisi neo-classical metal, sering dikaitkan dengan kecepatan bermain gitar dengan nanda tinggi, skala pekikan dan skala raungan. 4 albumnya, sejak 1984 sampai dengan 1988, Rising Force, Marching Out, Trilogy, dan Odyssey, berada di top 100 untuk penjualan

Nama lahir Lars Johan Yngve Lannerbäck
Nama lain Yngwie J. Malmsteen
Lahir 30 Juni 1963 (umur 46)
Stockholm, Swedia
Genre Neo-classical metal, power metal, heavy metal
Pekerjaan Musisi, Penulis lagu
Instrumen Gitar, bass, keyboard, vocal, sitar, cello
Tahun aktif 1978 - sekarang
Perusahaan rekaman Polydor, Polygram, Elektra
Terkait
dengan
Rising Force, Steeler, Alcatrazz, G3

Yngwie Johan Malmsteen, siapa sih yang gak ngeh dengan nama itu, apalagi buat pencinta musik dan permainan gitar yang memukau. Sebenarnya, dia hanya seorang manusia biasa, sama biasanya dengan kita semua, tapi dengan talenta yang sangat hebat, khususnya maenin gitar dan tidak kalah dengan talenta yang dimiliki oleh Jimi Hendrix, yang ampe saat ini tenar sebagai pelopor permainan gitar modern. Oh ya, ada satu quote yang menarik yang di tempelin di website resmi-nya Yngwie Malmsteen, “The day Jimi Hendrix died, the guitar-playing Malmsteen was born“.


Sedikit flashback ke belakang, dulu waktu belum sama sekali ngeh dengan Yngwie, aku udah cukup sering dengerin lagu-lagu klasik di maenin di televisi, di radio, dan juga di tape recorder tua milik Papa, yang suara-nya udah mulai mendayu-dayu bagai musik melayu karena head-nya udah mulai lemah. Apalagi salah satu nomor dari Johann Sebastian Bach ”Air” From Orchestral Suite No.3 yang merupakan salah satu nomor kesukaan-ku, juga Eine Kleine Nachtmusik -nya Wolfgang Amadeus Mozart, dan beberapa lagu lain-nya (kalau mo denger bisa ke link ini), pokok-nya tiada hari tanpa musik klasik, selain rock ‘n roll dan blues, yang juga musik kegemaran Papa. Heran juga sih kok Papa gak jadi pemusik aja yaks?
Giliran aku masa remajaakil balig™, dan aku udah mulai demen yang namanya gitar, dan lagi seneng-senengnya dengan permainan gitar Ritchie Blackmore dan Eddie Van Halen, dimasa inilah aku mendengar untuk pertama kali-nya musik klasik yang aneh, unik, menarik, kenceng, tapi indah waktu lagi nangkringnongkrong dengan temen-temen di studio band, bener-bener bingung waktu itu dan terus terang gak yakin kalau itu emang musik klasik. Sontak, aku langsung tanya ke orang yang muterin, kalau tidak salah judul-nya “Vivace” yang diputer ama bang Yayak, temen-ku, seorang gitaris top di kota-ku, yang waktu gitaris Mr.Big-Paul Gilbert dateng ke kota-ku, dia jadi gitaris pembuka. Usut punya usut, musik ini dimaenin ama orang yang waktu itu menurut-ku namanya aneh, nama kok Yngwie Malmsteen gitchu lho, gak jelas itu orang dari mana. Belon lagi dengan bahasa asing-ku yang belepotan makin susah kan aku ngeja nama yang satu ini. Kalau mo denger prolog lagu-nya bisa klik pada link ini
Dasar emang udah demen sama musik klasik, mulai aku cari tahu keberadaan musik yang dimainkan Yngwie Malmsteen ini, dan akhir-nya nemu kalau genre yang di-usung-nya itu namanya Neo-Classical Metal,
sebuah aliran musik pecahan dari heavy metal yang menggunakan komposisi dan elemen-elemen musik klasik sebagai dasar, kemudian dibumbui dengan tekhnik improvisasi yang menekankan pada kecepatan dan ketepatan tempo.
Satu Kata Hebat !!!. Komposisi musik klasik yang biasanya dimainkan dengan tempo yang berubah-ubah dan njelimet, dimainkan dengan sangat indah-nya lewat permainan jari-jemari-nya di atas fretboard gitar, pantas aja dia dijuluki sebagai si “Jari Setan” di dunita per-gitar-an, karena berdasarkan hasil survey, kecepatan dan ketepatan-nya dalam memainkan nada-nada dengan gitar belum ada yang menyamain ampe sekarang. Katanya sih dia punya formula untuk tekhnik arpeggio-nya yang dikenal dengan tekhnik shred, sayang-nya ampe hari ini, otak-ku masih belum mampu untuk memahami formula tersebut :mrgreen:
Dari situlah perburuan-ku dengan lagu-lagu-nya Yngwie tepat dimulai, dan mulai paham dan ngeh bahwa ternyata ohhh yang namanya Neo-Classical Metal itu ternyata seperti ini. Beberapa nomor yang bikin aku gregetan dan bikin darah mendesir tiap kali denger lagu dari Yngwie Malmsteen ini adalah:
  • Carry On Wayward Son – Album Inspiration
  • Overture 1383 – Album Rising Force Marching Out
  • Faster Than The Speed Of Light – Odyssey
  • Blitzkrieg – Album Rising Force Alchemy
  • Like an angel (For april) – Album Facing The Animal
yngwieinaction.jpg
Sangat, sangat pantas kalau aku julukin dia sebagai legenda baru musik klasik yang gak kalah dengan Johan Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, atau Johann Strauss sekalipun, dengan kemampuan-nya menggabungkan komposisi musik klasik yang secara komposisi sangat kompleks, dengan permainan gitar modern. Dan bukan, bukan hanya permainan gitar-nya saja yang keren, lirik-lirik dari lagu yang diciptakan-nya sendiri juga penuh dengan makna yang dalam
Ini aku kutipkan lirik dari lagu-nya yang berjudul I’m My Own Enemy dari album Fire and Ice:
From now on I’m dancing with myself
To the sound of a blue and broken string
Left behind with a dust upon a shelf
The remains of a long forgotten song

All that we had but now again
I stand alone all love has an end

You cannot see this is my destiny
I’m my own enemy
In my life there wsw no-one like you
You cannot see this is my reality
I’m my own enemy
In my life there was no’one like you

From now on I’m sleeping with my shadow
In the night my thoughts can be my own
All the pain and all this endless sorrow
I miss you more than I will ever know

Holding you never again
It cannot be all love has an end

You cannot see this is my destiny
I’m my own enemy
In my life there was no-one like you
You cannot see this is my reality
I’m my own enemy
In my life there was no’one like you

Now I know there is no-one tha is waiting
At the end of that long and widing road
Memories in the dead of night are calling
All the way I carry on my heavy load

All that we had but now again
I stand alone all love has an end

You cannot see this is my destiny
I’m my own enemy
In my life there was no-one like you
You cannot see this is my reality
I’m my own enemy
In my life there was no’one like you

Yngwie juga tidak segan-segan mengakui bahwa, Jimi Hendrix adalah salah satu inspirator-nya dalam bermain gitar, ini dibuktikan-nya dengan memainkan salah satu nomor dari Jimi, Spanish Castle Magic pada album Inspiration-nya, kebayang-kan gimana seorang maestro Neo-Classical Metal, ngemaenin blues dengan style-nya sendiri.

Jumat, 04 Desember 2009

Dream Theater New Documentary Video

Dream Theater Issue Documentary Road Video for "Wither"

“Of the 10 videos we've done through the years, I felt we have never been truly captured in our element...which of course is on tour, playing to our fans, with our lighting and video show. So I thought it was time to do a video that showed us in our ‘real world’ (unlike the ‘fake worlds’ that are usually created when shooting a promo video),” says Mike Portnoy of Dream Theater about the band’s new documentary road video for their new single “Wither” from their 10th studio release, Black Clouds and Silver Linings. See interview with Portnoy about the video below.
Directed by Ramon Boutviseth, who did the same honors for the first clip for the album’s first single “A Rite of Passage,” the “Wither” video was shot on location in the U.K. (London, Manchester), France (Paris, Lille) and Rotterdam (the Netherlands) as part of Dream Theater’s September/October 2009 headlining “Progressive Nation” tour reaching 15 countries
Meanwhile, the legendary progressive metal masters just launched their headlining down under tour December 1, encompassing seven shows in Australia and New Zealand, wrapping December 12 in Perth, with special guests Pain of Salvation will join the band on all dates except in New Zealand. Look for the band to head to South America in the winter-spring.
Q&A with Mike Portnoy about the “Wither” video:
How do you feel the song's somber emotional theme works in the context of a documentary tour video? There's a weariness to the road (the traveling to and from the shows, NOT the onstage moments) that is captured here.
“I think this video captures the reality of what it's really like for us on the road. Sure, the two hours on stage are amazing and ultimately why we do this....but the reality is, there are another 22 hours throughout the day which consists of a lot of traveling, interviews, meet & greets and sometimes a tremendous amount of sitting around and waiting....which sometimes can be very lonely.”
What are your thoughts about how the video turned out and how it represents the recent European tour?
“I love the final outcome of this video...it really captured the day to day and hour to hour activities that surround a day on the road with Dream Theater...not only for us, but our crew and our fans as well.”
Can you talk about the experience of performing overseas and connecting with your fans there?
“Touring in Europe and the UK are always some of our best shows and are always among the highlights throughout a World Tour for us....the ‘Wither’ shoot alone captured three amazing audiences and venues for us: The Zenith in Paris, The Ahoy in Rotterdam and Wembley Arena in London....all three of these cities, venues and fans are always favorites of ours!”

Joe Satriani - Guitar Hero


Surfing through a decade of extraordinary guitar achievements with Joe Satriani: guitardom’s resident alien discusses some of his most shred-tastic tracks.



Since first arriving onto the guitar scene a decade ago, Joe Satriani has continually proven to be a master of fleet-fingered, high-tech shred. With albums like Surfing With The Alien, Flying In A Blue Dream, The Extremist and Time Machine, Satch and his axe boldly surfed where few have dared and even fewer survived. So, where does a guy who’s been nearly everywhere with his trusty six-shooter go next?

Back home.

That’s exactly where we find Satriani on his latest offering, Joe Satriani. On it, Satch pays homage to the musicians he grew up listening to. Visions of the raw, screaming electric blues of Jimi Hendrix, Jeff Beck and Jimmy Page permeate the album, which some have called Satriani’s Blow By Blow. Produced by veteran helmsman Glyn Johns [Rolling Stones, Led Zeppelin, The Who], Joe Satriani abandons the guitarist's trademark overdubbed, highly produced guitar attack in favor of a more honest, jammy, live feel that’s fully entrenched in the magical vibe of the late Sixties/early Seventies. The result is an album that sparkles with some of the most soulful and moving guitar playing of Satch’s career.

“Glyn wanted some real interaction,” says Satriani. “He didn't want people just looking at their chord charts or anything like that. He wanted some real musical shit to happen. He made us play the song then and there, in the moment, and that was it. Manu [Katche, drummer] wasn't going to be looped and triggered. And Andy [Fairweather Low, rhythm guitarist] wasn’t going to overdub his rhythm parts three weeks later. Everyone was asked to come up with the coolest part today, play it, and thank you very much—we’re doing another song tomorrow.”

Satriani admits that the recording process, while ultimately rewarding, did take its toll. “We were all sort of tingly and sometimes I’d have a headache by the end of the day. We’d be wasted from all that intensity.”

We recently caught up with Satch to get his thoughts and reflections on some of the finer moments in his repertoire, including signature tracks, oddities and a couple of inspired tracks from his latest guitar opus.

Selasa, 01 Desember 2009

Use Your Illusion (GNR) - Resensi Lagu

Mendengarkan lagu-lagu dari Gun N roses kita seakan di bawa ke dalam sebuah renungan yang sangat dalam. Grup band dari amerika ini dengan frontman-nya sang vokalis Axl Roses dan Gitaris Slash begitu mempesona di era 80-an dan 90-an.
Dengan bassis duff mckagan, Rhythm Gitar Izzy stradlin dan Steven adler pada drum di formasi awal..yang sempat ganti personil pada drum di album use your illusion. Dan juga ada tambahan dizzy reed pada piano dan keyboard.

Pada album Use your illusion I dan II terasa sekali kekuatan lirik dan musik sangatlah kuat dan menyatu..bisa kita rasakan misalnya dalam lagu November rain:..
When I look into your eyes

I can see a love restrained

But darlin' when I hold you

Don't you know I feel the same


'Cause nothin' lasts forever

And we both know hearts can change

And it's hard to hold a candle

In the cold November rain

Sebuah pembuka dari lagu tentang hujan di bulan November yang dibingkai oleh sebuah cinta yang tak abadi…dan di akhir lagu dikunci dengan sebuah renungan yang memikat, bersama sayatan gitar slash dan piano dizzy reed…..


Everybody needs somebody

You're not the only one

You're not the only one
………………………
Bahwa setiap orang pasti memerlukan orang lain, sebagaimana sebagai sebuah makhluk social.

Dan juga kita bisa rasakan kepedihan perang pada lagu Civil War…:

Look at the hate we're breeding
Look at the fear we're feeding
Look at the lives we're leading
The way we've always done before


My hands are tied
The billions shift from side to side
And the wars go on with brainwashed pride
For the love of God and our human rights
And all these things are swept aside
By bloody hands time can't deny
And are washed away by your genocide
And history hides the lies of our civil wars
……………………..
Sebuah lirik yang bercerita dan memancing daya imajinasi pendengar akan sebuah kekejaman perang..seperti biasa suara Axl Rose yang sangat khas bisa mengekspresian luka-luka akan sebuah perang.

Sebagai sebuah karya..memang ilham bisa datang kapan saja untuk bisa mencipta, bisa saat melihat hujan, melihat korban perang, saat minum-minum di sebuah café atau saat rasa keterasingan menyapa. Dan tentunya untuk menghasilkan sebuah maha karya diperlukan sebuah laku atau proses yang panjang untuk menyatukan unsur irama dari sisi musikalitasnya dan kekuatan lirik agar bisa sublime.

Dan di lagu “estranged”..kita bisa rasakan sebuah keterasingan…..:

When you're talkin to yourself

And nobody's home

You can fool yourself

You came in this world alone

(Alone)
…………………………
Dan dipertengahan lagu ditingkahi dengan sebuah suara gitar yang mengikuti pada nada-nada tinggi ….axl Roses berteriak…

Well I jumped into the river

Too many times to make it home

I'm out here on my own, an drifting all alone

If it doesn't show give it time

To read between the lines


'Cause I see the storm getting closer

And the waves they get so high

Seems everything we've ever known's here

Why must it drift away and die

album Use Your Illusion adalah album abadi…..kita bisa merasakan cinta, perang, dan keterasingan di dalamnya..tentunya masih banyak lagu-lagu lain yang juga mempesona seperti .Yesterday, get in the ring, Live and let die, Don’t cry..dan lain-lainnya. Atau mungkin ada yang lebih suka pada album appetite for destruction, seperti sweet child o’ mine atau welcome to the jungle….
Semoga bisa kita bahas di note selanjutnya.

Madiun, 11/05/2009


Keep On Rockin’
Only brave heart playing Rock n Roll…

Diskografi The Rollies

ALBUM ALBUM THE ROLLIES (1969-1983)

Oleh Denny Sakrie
(seperti yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia Edisi 33 Januari 2008)

The Rollies – Pop Sound Phillips ,1969

Semua lagu dalam album debut The Rollies yang dirilis di Singapore ini merupakan cover version atas sejumlah hits mancanegara saat itu antara lain seperti “Sunny” (Bobby Hebb) maupun ”Love Of A Woman” (Samantha Sang).Tak ketinggalan pula aroma black music dari 3 hits James Brown “I Feel Good”,”It’s A Man’s Man’s Man’s World” dan “Cold Sweat”,semuanya diekspresikan oleh Bangun Soegito Tukiman yang sejak saat itu ditahbiskan sebagai James Brown Indonesia.
Istimewanya The Rollies tak sekedar sebagai grup peraga lagu saja.Mereka menginjak wilayah kreatif dengan arransemen yang lebih bernas.Makanya tak heran,banyak yang menyangka B-side Hits nya kelompok Love Affair “Gone Are The Songs Of Yesterday” adalah karya The Rollies.

Let’s Start Again – Remaco 1971

Ini album pertama Rollies di negeri sendiri setelah melanglangbuana dibeberapa kota Asia Tenggara.Cengkerama n pengaruh James Brown,The Rolling Stones hingga kelompok beralas brass seperti Blood,Sweat & Tears,Chicago maupun Tower Power kuat membekap The Rollies.Simaklah “My Iggy” yang didesahkan Deddy Sutansjah bagai kembar siam Mick Jagger.Dengar pula Gito bagai gaung ghetto membaurkan blues dan funk dalam “Let’s Start Again”.Dengan durasi sekitar 8 menit Delly menggerus kuping kita dengan aura ala John Mayall & The Blues Breakers dalam “I Had To Leave You”.
The Rollies akhirnya resmi menanggakan jubah cover version band.

The Rollies – Remaco 1972
Ditengah mengguritanya band-band pop di penjuru tanah air yang digagas Koes Plus,kehadiran The Rollies bisa menjadi oase atau mungkin sebagai pelengkap penderita saja.Band Bandung ini masih tetap berkutat dengan konsep musik hibrida .Musikalitas Benny Likumahuwa sebagai sosok yang banyak bertanggung jawab dalam departemen musik teruji disini.Rollies kokoh dalam komposisi maupun arransemen musiknya. Gito tetap bersepupu dengan James Brown lewat “Bad News”.Deddy Sutansjah tetap dibayangi Mick Jagger dalam “Come Back To Me” yang mengingatkan kita pada “Lady Jane” nya Rolling Stones.
Lalu sebuah lagu aneh “Pahlawan Revolusi” yang memempelaikan spirit jazz dengan keroncong.

Sign Of Love – Purnama Record 1973

Entah kenapa bisa terjadi salah cetak pada judul album yang seharusnya “Sign of Love” malah tercetak “Sing Of Love” .Tapi dalam musik,The Rollies tetap tak salah kaprah.Mereka tetap konsisten,walau ditendang oleh Remaco karena musiknya dianggap tidak memiliki potensi sebagai album komersiel.Album ini seolah merupakan bagian ketiga dari trilogi yang merajut album “Let’s Start Again” dan “The Rollies”.
Namun ada daya tarik lain yang mencuat disini dengan meraungnya bunyi bunyian ARP synthesizers .Delly Djoko Alipin bagai dirasuki jemari Keith Emerson dan Stevie Wonder.Dia kerap menerapkan teknik glissando.Konon,untuk pertamakalinya synthesizers dipakai dalam rekaman album musik Indonesia. Eksplorasi itu bisa disimak pada “Sign Of Love” yang riuh dan gurih. Nuansa Rolling Stones masih terasa pada lagu “When You Alone Again” yang dinyanyikan Deddy Sutansjah dengan konotasi druggy.

The Rollies Live In TIM – Hidajat Audio 1976

Bisa dianggap album live pertama dalam konstelasi musik rock Indonesia.Direkam oleh dedengkot jazz Jack Lesmana pada saat The Rollies menggelar konser dua malam berturut-turut 2 dan 3 Oktober 1976 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.Album ini seolah mengobati kerinduan penggemar The Rollies setelah 3 tahun tak merilis album satu pun.Dengan 2 personil baru Oetje F Tekol (bass) dan Jimmie Manoppo (drums),The Rollies makin terlihat kian matang dalam departemen musik.Bonnie Nurdaya menggantikan almarhum Iwan Krisnawan menyenandungkan “Salam Terakhir” yang terasa mengiris kalbu.Selebihnya The Rollies membawakan repertoire asing seperti “Free” (Chicago),”You’ re Still A Young Man” (Tower of Power),”King Arthur” (Rick Wakeman),”It’s A Man’s Man’s Man’s World” (James Brown) serta lagu yang seolah menjadi signature The Rollies “Gone Are The Songs Of Yesterday”.

Tiada Kusangka – Hidajat Audio 1976

Sederet lagu yang sebelumnya pernah mereka rekam pada album yang dirilis antara 1969-1973,kini di remake lagi dengan tata arransemen yang lebih mature dan nature.Semacam album revisited.
Ada “Gone Are The Songs Of Yesterday”,”Salam Terakhir”,”Pahlawan Revolusi”,”Love Of A Woman”,”Let’s Start Again”,”No Sad Sad Song”,Hidupku” ,”Tiada Kusangka”,”Mawar Idaman” dan “Lagu Rindu”.Pada karya instrumental “Infra Merah”,The Rollies masih menawan sebagai sebuah brass rock sohor tanah air.

Dansa Yok Dansa – Musica Studio’s 1977

Dengan memakai New Rollies mengisyaratkan bahwa ada yang berbeda dari The Rollies.Pertama, Benny Likumahuwa sebagai sosok kuat grup ini telah mengundurkan diri.Kedua,The Rollies mulai melirik lagu-lagu berkonotasi mengkhalayak atau sering disebut komersiel.Jadi tak usah heran jika “Dansa Yok Dansa” (karya Titiek Puspa) menjadi track andalan.
Alhasil,The Rollies mulai dikenal luas.
The Rollies bahkan tanpa canggung menyanyikan kembali lagu “Lembah Biru” (A.Riyanto) yang pernah dipopulerkan penyanyi berparas menawan Andi Meriem Mattalatta.

Bimbi (Vol.3) – Musica Studio’s 1978

Karya Titiek Puspa kembali diandalkan sebagai jagoan yaitu “Bimbi”,sebuah dampak urbanisasi sosial.Nuansa brass section masih bergaung walau tak seberat dahulu.Peniup saxophone The Pro’s Pomo masuk dalam formasi The Rollies .Pomo dengan alto saxophonenya menggelinjang bagai cacing kepanasan.
Oetje F Tekol mulai memperlihatkan taring sebagai hitmaker mumpuni lewat lagu “Hari Hari” dengan rhythm section ala “Just You And Me” nya Chicago.
Album ini juga diriuhkan dengan hits karya Johannes Purba “Hanya Bila Haus Di Padang Tandus” yang dikumandangkan Gito.

Kemarau – Musica Studio’s 1979

Oetje F Tekol kembali menebar pesona lewat karyanya “Kemarau” yang dinyanyikan Delly.Lagu yang aslinya bergaya country sebetulnya adalah lagu tambahan ketika album ini masih kekurangan satu lagu lagi.Di luar dugaan setelah diarransemen dengan sedikit sentuhan funk dan disusupkan unsur brass section lagu ini membahana diman-mana bahkan memperoleh penghargaan “Kalpataru” pada tahun 1979 dari Menteri Lingkungan Hidup Dr.Emil Salim,karena dianggap menaruh perhatian pada masalah lingkungan hidup.
Di album ini pula bermukim lagu asmara yang tetap hijau hingga kini yaitu “Kau Yang Kusayang” (Anto) yang dilengkingkan Delly Djoko Alipin.

Kerinduan – Musica Studio’s 1979

Album ini terasa bagaikan sequel dari album “Kemarau”.Lagu “Kerinduan” (Anto) yang dinyanyikan Delly seolah menjadi “Kau Yang Kusayang Part 2”.
Oetje F Tekol pun membuat lagu bertendensi jingoisme bertajuk “Indonesia”.
Berpanji dwiwarna
Megah perkasa
Jayalah nusantara
Jayalah negeriku selamanya
Pada interlude lagu ini tiba-tiba menyusup penggalan lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”.
Drummer Jimmie Manoppo mulai ikut bernyanyi solo pada lagu “Mereka Yang Berjasa” dan “Satu Surga”.

Pertanda – Musica Studio’s 1979

Album ini memang tak memiliki hit dahsyat seperti pada album “Dansa Yok Dansa”,”Bimbi” maupun “Kemarau”,namun Rollies masih berupaya menampilkan sesuatu yang bisa dipertanggung jawabkan.Lagu “Pertanda” karya Jimmie Manoppo adalah salah satu contohnya.Di lagu ini The Rollies seolah ingin kembali pada gaya album-album awal mereka dahulu terutama karena arransemen lagi kuat dipengruhi “Does Anybody Knows What Time Is It ?” nya Chicago Transit Authority.

Rollies ’83 – Sokha Record 1983

Ketika album ini dirilis,trend musik yang tengah mewabah adalah new wave yang banyak disusupi anasir musik reggae.Rollies mengimbuhnya dalam lagu “Mabuk Cinta” yang ditulis Harry Sabar.
Dan setelah cukup lama menghilang,The Rollies ternyata memiliki beberapa lagu andalan seperti ballada yang dinyanyikan Gito “Burung Kecil”.Termasuk lagu yang terinspirasi dari acara berita di TVRI “Dunia Dalam Derita”.
Rollies – Sokha Record 1983
Reggae kembali menjadi style musik yang digenggam The Rollies.Simaklah “Astuti” yang dinyanyikan Delly dan Gito secara duet.Sayangnya aransemen brass digarap seadanya.Tanpa gereget sama sekali.
Tapi jika mau jujur,sebetulnya energi bermusik The Rollies telah terkuras habis di album ini.Mereka lebih banyak melakukan repetisi atas lagu-lagu terdahulunya.
Setelah album ini,hingga akhir decade 80-an The Rollies masih merilis album tapi dengan semangat setengah hati.

DENNY SAKRIE

The Doors

The Doors: Pintu-Pintu Spiritualitas Jaman Modern

Oleh Rizal Shidiq, mahasiswa George Mason University, Washington D.C

Menjelang bulan puasa, jalanan di sekitar Tanah Kusir atau Karet biasanya macet karena banyak orang melakukan ziarah kubur. Ritual ini masih menjadi institusi penting dalam kehidupan sosial Indonesia. Tidak percaya? Lihatlah ribuan rombongan pengajian masjid yang sengaja menyewa bis untuk berziarah ke makam Walisongo. Masih tidak percaya? Jutaan orang berjejalan di terminal dan stasiun berusaha mudik tiap tahun, salah satu tujuan penting mereka adalah untuk menengok makam keluarga. Kuburan juga menjadi salah satu tema yang paling banyak digarap dalam film-film Indonesia yang baru bangkit (dari kuburnya sendiri) itu. Belum lagi sinetron.

Dulu, dengan naif dan sedikit sebal, saya pikir ini hanya terjadi di masyarakat yang sebelah kakinya masih berpijak di dunia agraris di mana kekuatan gaib –sebagai jelmaan kekuatan alam– masih dianggap menentukan mati hidup seseorang. Ketika masyarakat mengalami proses modernisasi dan beranjak ke tradisi industri di mana rasionalitas menjadi raja, ritual semacam ziarah kubur itu tidak relevan lagi. Tapi bagaimana menerangkan bahwa di London sekalipun, orang masih berdatangan ke Highgate cemetery, menyambangi makam Karl Marx –yang jelas-jelas bahkan bilang agama itu candu dunia? Atau bagaimana misalnya di Paris, Le Cimetière du Père-Lachaise didatangi orang-orang dari seluruh dunia untuk ziarah ke makam Jim Morrison, vokalis kelompok The Doors.


Sedemikian terkenalnya makam Jim Morrison itu, sampai saya ingat, sewaktu beberapa bulan lalu menonton America’s Next Top Model, –ya, betul, saya menonton reality show yang tak terlampau berguna itu–, empat calon peserta calon top model itu bertengkar hebat karena dua orang ingin berbelanja, dan dua orang lainnya ingin datang ke makam Jim Morrison. Betapa saktinya, sampai dalam kubur pun, ia masih mempesona perempuan-perempuan model muda itu.

Jim Morrison, kalau saya tidak salah, menurut Yusuf (dimainkan Nicholas Saputra) dalam film bagus besutan Riri Reza, Tiga Hari Untuk Selamanya, adalah salah satu anggota rombongan pesohor yang (sebagian memutuskan) mati pada usia rawan 27 tahun –misalnya Janis Joplin, Jimi Hendrix, Kurt Cobain, bahkan Chairil Anwar dan idola saya, Soe Hok Gie.

Gie mendeskripsikan perasaannya dengan sangat bagus dalam entry terakhir catatan hariannya, ketika ia merasa amat sepi di dalam bis kota ditemani lampu-lampu jalan Jakarta, beberapa hari sebelum ia berangkat menjemput maut di puncak Semeru. Chairil menulis: sekali berarti, habis itu mati. Kurt Cobain kelihatannya telah menggambarkan kematiannya sendiri dalam salah satu lagu di album debut Nirvana, Heart Shaped Box. Sementara Jim Morrison menulis lirik lagu “The End” sejak album debut The Doors.

Nah, tiga hari lalu, setelah sejam mengaduk-aduk rak bawah di toko semprul langganan saya itu, saya ketiban rejeki: piringan hitam album debut The Doors berjudul sama, yang nongkrong di peringkat 42 dalam RS 500 itu. Tiga setengah dollar melayang, dengan sukses.

Beberapa hari setelahnya berulangkali saya pasang album itu bolak-balik, mengejar pelajaran saya tentang salah satu kelompok legendaris peninggalan masa psikedelik yang riuh itu. Ini adalah salah satu album dengan lirik-lirik terbaik yang pernah saya dengar. Morrison, saya rasa, seorang penyair yang amat berbakat. Barangkali karena ia mengenal karya sastra serius semacam tragedi Oedipus dari Sophocles. (catatan: kalau kita perhatikan, wajah Jim Morisson agak-agak mirip dengan Rendra waktu muda). Menurut Wikipedia, nama kelompok ini pun diambil dari buku Aldous Huxley, The Doors of Perceptions, tentang pengalaman Huxley memakai narkotik jenis mescaline –obat-obatan yang juga sering disebut-sebut dalam novel gila Hunter Thompson, Fear and Loathe in Las Vegas.

Di dalam album The Doors ini ada dua lagu yang kemudian menjadi semacam signature kelompok itu: “Light My Fire” dan “The End”. “Light My Fire” adalah lagu yang asyik didengarkan. Katanya sih campuran antara rock psychedelic dan cikal bakal fusion jazz –barangkali karena di lagu, penggunaan piano elektrik amat kental. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka penggunaan alat musik keyboard atau piano elektrik –ini juga alasan mengapa saya bukan penggemar berat fusion jazz, walaupun belakangan saya mulai mengapresiasi piano Rhodes yang terdengar gendut. Tetapi di album ini saya harus akui, pemakaian piano elektrik menjadi elemen yang kuat dan bagus.

“Light My Fire” menjadi lagu yang memang memantik api kepopuleran The Doors. Walaupun sebenarnya agak-agak fatalis liriknya, lagu ini cocok didengarkan pagi-pagi sebelum berangkat kerja atau kuliah, atau apa saja, sambil minum kopi kental dan makan lontong sayur. Pada masanya lagu ini sangat laris diputar di mana-mana, walaupun seringkali dalam versi radio yang lebih pendek karena versi aslinya panjangnya hampir sebelas menit.

Walaupun begitu, yang paling menarik bagi saya justru lagu terakhir di album itu, “The End“, yang menjadi semacam kesaksian tentang akhir hidup Jim Morrison yang ironisnya ia tulis di album debutnya. Lagu itu penuh alegori tentang kematian semacam “riding the snake” yang panjangnya “seven miles”. Yang paling surreal menurut saya adalah ketika ia berseru:

The blue bus is callin’ us

The blue bus is callin’ us

Driver, where you taken’ us

Saya rasa ada semacam ketakutan yang teramat dalam di lirik itu, dan Blue Bus saya kira adalah salah satu metafor paling bagus tentang malaikat pencabut nyawa. Di bait selanjutnya Jim melawan, protes, dan berkisah:

The killer awoke before dawn, he put his boots on

He took a face from the ancient gallery

And he walked on down the hall

He went into the room where his sister lived, and…then he

Paid a visit to his brother, and then he

He walked on down the hall, and

And he came to a door…and he looked inside

Father, yes son, I want to kill you

Sebuah potongan drama tragedi yang mencekam, sebagian orang menganggapnya mengacu pada Oedipus karya Sophocles, sekaligus menjadi potongan lirik paling kontroversial pada masa itu.

Pada akhirnya, si penyair yang hebat ini ditemukan mati di bak mandi, dalam usia 27, kabarnya serangan jantung. Walaupun begitu, wajahnya yang muda dan bersih masih sering kita temukan dalam poster-poster di kamar-kamar anak muda seantero dunia. Ia telah menjadi simbol dan ikon pemberontakan. Bahkan, waktu saya salah masuk alamat website mencari kata kunci Jim Morrison dari mesin pencari, sebelum menampilkan biografi singkat Jim Morrison, kalimat pertama yang muncul adalah “Are you looking for god?”.

Nietzsche barangkali hanya bisa garuk-garuk kepala. Manusia dan pengalaman spiritualnya memang tidak pernah dengan mudah diringkus. Ketika tuhan yang tradisional dibunuh oleh Nietzsche dalam lakon Also sprach Zarathustra, muncul tuhan-tuhan baru sebangsa Jim Morrison. Selama itu pula, kuburan mungkin akan terus didatangi.

Saya ingin juga datang ke makam Jim Morrison. Iseng saja, dan siapa tahu Paris punya banyak toko vinyl yang murah-murah

Jumat, 20 November 2009

Metallica - Always Powerfull


Di awal tahun 1981, Lars Ulrich sang drummer memasang iklan dalam sebuah koran setempat mencari personil untuk membentuk sebuah band. Iklan ini mendapat sambutan dari James Hetfield yang dengan segera bergabung dengan band yang belum punya nama ini.

Metallica didirikan pertama kali di Los Angeles - Amerika Serikat dengan nama The Young of Metal Attack. Beberapa bulan kemudian grup ini berganti nama dengan Metallica yang konon merupakan gabungan kata Metal dan Vodca. Nama Metallica sendiri sebenarnya adalah nama yang diusulkan untuk sebuah majalah musik yang dicuri oleh Lars Ulrich sebelum majalah tersebut mendapat nama tersebut.

Formasi pertama Metallica adalah Lars Ulrich (drum), James Hetfield (vokal dan gitar), Lloyd Grant (gitar) dan Ron Mc Govney (bass). Formasi inilah yang kemudian melahirkan lagu pertama berjudul Hit The Light, yang kemudian masuk album kompilasi rock Metal Massacre tahun 1981.

Setelah Metal Massacre beredar, Grant dan Ron mengundurkan diri. Posisi Grant digantikan oleh Dave Mustaine dan posisi Ron digantikan Cliff Burton. Formasi ini kemudian pada Juli 1982 mengeluarkan demo-album No Life Till Leather. Demo inilah yang kemudian mengantarkan Metallica mendapatkan agen dan kemudian hijrah ke New York.

Pada 1983, Metallica berencana akan melakukan tur pendek kebeberapa kota. Sayang Hetfield dan Mustaine malah terlibat perseteruan, hingga akhirnya Mustaine keluar dan kemudian mendirikan Megadeth. Posisi Mustaine digantikan oleh Kirk Hammett , gitaris dari grup Exodus. Formasi ketiga inilah yang kemudian mengeluarkan album Kill 'Em All pada bulan Mei 1983.

Pada tahun 1984, Metallica semakin besar dengan menerbitkan album Ride the Lightning. Album ini bertahan 50 minggu dalam Billboard Top 200. Demi memperlancar promosi mereka juga mengeluarkan mini album Jump In The Fire.

September 1985, Metallica memproduksi album Master Of Puppets. Kembali Metallica masuk Billboard Top 40 selama 72 minggu. Album ini merupakan album yang meraih platinum tanpa single dan video.

Tanggal 27 September 1986, dalam perjalanan tur ke Skandinavia - bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan Cliff Burton (bass) meninggal dunia. Peristiwa ini begitu memukul seluruh anggota band. Bahkan Dave Mustaine yang telah mendirikan Megadeth, mengenang kematian Cliff dalam lagu In My Darkest Hour (album Megadeth: So far.. So Good.. So What!). Oktober 1986, posisi Cliff Burton digantikan oleh Jason Newsted, basis dari grup Floatsam And Jetsam.

Album ...And Justice For All beredar September 1988. Disinilah Metallica mulai mengeluarkan video klip. Video pertama mereka adalah untuk lagu One, video ini mencapai nomor 1 di MTV. Keberhasilan ini kemudian mendorong produksi video klip Cliff 'Em All sebuah video kenangan untuk Cliff Burton.

Akhir 1990 album Metallica direkam. Album ini membuat Metallica mencapai penjualan quadruple platinum dan menjadi album nomor satu di delapan negara Amerika dan Eropa. Serta meraih penghargaan Grammy Award, kategori Penampil Metal Terbaik dua tahun berturut-turut.

Basis jason Newsted mengundurkan diri dari band setelah bersitegang dengan James Hetfield. Perseteruan ini disebabkan Jason Newsted lebih menghabiskan waktu dengan proyek-nya sendiri. Anggota band yang lain menganggap Metallica harus diutamakan, meskipun pada saat itu Metallica sedang vakum.

Grup ini pada saat ini beranggotakan Lars Ulrich (drums), James Hetfield (vokal dan gitar), Kirk Hammett (gitar) dan Robert Trujillo (bass). Mantan anggota lainnya termasuk Ron McGovney (bass), Dave Mustaine (gitar), Cliff Burton (bass) dan Jason Newsted (bass).

Pada tanggal 10 Agustus 2008 Metallica akhirnya telah menyelesaikan proses rekaman album studio baru mereka yang ke sembilan "Death Magnetic" yang diluncurkan pada tanggal 12 September 2008 di seluruh dunia.

Album tersebut diproduseri oleh "Rick Rubin" dan proses rekaman dilakukan di Sound City Studios, Shangri La Studios dan di studio Metallica sendiri.

dengan usia yang tidak muda lagi tapi Metallica tetap bermusik dengan irama heavy dan speed metal, always powerfull. sebuah dedikasi pada musik Rock yang patut diteladani oleh para musisi-musisi muda.



Discography


* Kill 'Em All (1983)
* Ride the Lightning (1984)
* Master of Puppets (1986)
* ...And Justice for All (1988)
* Metallica (1991)
* Load (1996)
* ReLoad (1997)
* St. Anger (2003)
* Death Magnetic (2008

Band members

Current members

* James Hetfield – rhythm guitar, lead vocals (1981–present)
* Kirk Hammett – lead guitar, backing vocals (1983–present)
* Robert Trujillo – bass, backing vocals (2003–present)
* Lars Ulrich – drums, percussion (1981–present)



Former members

* Jason Newsted – bass, backing vocals (1986–2001)
* Cliff Burton – bass, backing vocals (1982–1986)
* Dave Mustaine – lead guitar, backing vocals (1982–1983)
* Ron McGovney – bass (1982)
* Lloyd Grant (gitar) (1982)



Madiun, 16/11/2009
Arif Gumantia
Creator Grup Legenda Rock di FB
"Only brave heart playing rock"

Chickenfoot - Kolaborasi Para Rock Legend


BERSENANG-SENANG, sebuah kata yang nampaknya memang akrab dengan kehidupan para rockstar, namun apa yang dilakukan oleh Sammy Hagar, Joe Satriani, Chad Smith dan Michael Anthony rupanya boleh dibilang menyenangkan juga bagi fans. Mereka membentuk sebuah Band yang bernama Chickenfoot. Serasa menyimak Van Halen yang diwakili oleh Ex-Vokalisnya Sammy Hagar, dan juga bassistnya Michael Antony, dan ada nuansa fusion rock-funk, berkat gebukan drum Chad smith yang merupakan drummer Red Hot Chili Peppers, salah satu Legenda Gitar terbaik di dunia ini Joe satriani.

Sebuah band baru yang di isi oleh para Super Star Rock, bagaikan sebuah band yang baru dibentuk tapi langsung menjadi sebuah supergroup., saat di konfirmasi ", vocalist Sammy Hagar states: "We’re not a supergroup, we like hanging out together and the music is a bonus. We just happen to be in other groups tapi racikan dari empat musisi kawakan ini rasanya layak untuk diapresiasi, terlebih mereka tetap bermain apa adanya, saling menyisakan ruang untuk sesama “nama besar .

Album debut self-titled Chickenfoot, memang rilis pada 9 Juni 2009 lalu, namun kebersamaan Sammy, Anthony, Satriani dan Chad sebenarnya telah berlangsung sejak awal 2008 silam, ini membuktikan meski mereka musisi kawakan, namun masih butuh sebuah proses ‘PDKT’ untuk saling memahami karakter masing-masing. Dan tak sia-sia, dengan mayoritas lagu dibuat oleh Sammy dan Satriani, mereka berhasil memilih 11 track, yang kabarnya harus dipilih dari ratusan materi jam session mereka!

Bagi die-harder Van Halen tentu akan terpuaskan dengan high-pitch vokal Sammy serta low-strong beat khas Anthony semasa mereka masih bersama Edy Van Halen dulu. Bahkan, di opening single “Oh Yeah, Down The Drain” serta “Sexy Little Thing”, Chickenfoot bagaikan Van Halen ‘tandingan’.

At least, ternyata identitas Chad sebagai salah satu ikon funk dalam Red Hot Chili Peppers juga mendapat porsi. Sangat terasa di “Future in the Past” dan “Turnin’ Left”, dua track dominasi fusion berdistorsi yang tetap groovie dan dinamis.
Begitu pula Joe Satriani yang lumrah ber-surfing di neck gitarnya, bersama Chickenfoot, guru besar Kirk Hammet ini menyisakan ruang untuk kekuatan lick gitar rhytem. Namun, sebagai seorang shredder gitaris gundul ini tak pernah menyia-nyiakan celah dalam setiap aransemen untuk jamming. Uniknya, semua dilakukan tanpa harus njlimet memikirkan komposisi, atau strict khas Satriani.

Untuk track yang potensial menjadi sing-a-long anthem, antara lain “Runnin’ Out”, “Soap On A Rope”, “Get It Up” serta “Learnin’ To Fall”. Semuanya bercirikan hits rock old-school yang rasanya sudah terlalu lama absen dari industri musik yang kian instan. Untuk track terakhir mengedepankan irama ballad harmonis, bertema religi dengan choir yang megah sebagai latar.
Overall, Chickenfoot jelas bukan mencari platinum, namun output yang unik dan langka ini bisa jadi adalah ekses bersenang-senang mereka yang bernilai mahal. Sebuah eksplorasi baru yang bukan hanya brilian bagi mereka, namun bermutu bagi telinga kita semua.

Maka album dari Chickenfoot ini layak untuk kita miliki, kita apresiasi, sekaligus kita koleksi. Keep On rockin’.

Album : Self Title
Label : Redline entertainment
Release : 5 Juni 2009.

Full "Chickenfoot" Track Listing:

Avenida Revolution
Soap On A Rope
Sexy Little Thing
Oh Yeah
Runnin' Out
Get It Up
Down The Drain
My Kinda Girl
Learning To Fall
Turnin' Left
Future In The Past




Madiun, 13/11/2009
Arif Gumantia
Creator grup Legenda Rock di FB.
"Only brave heart playing Rock"

Kamis, 22 Oktober 2009

Diskografi Led Zeppelin

Led Zeppelin adalah kelompok musik rock dari Inggris yang dibentuk bulan September 1968, dan dibubarkan setelah pemain drum John Bonham meninggal. Led Zeppelin terdiri dari Jimmy Page, Robert Plant, John Paul Jones, dan John Bonham. Dengan musiknya yang menonjolkan suara gitar yang keras dan berat, Led Zeppelin dianggap sebagai salah satu band heavy metal yang pertama. Sebagian besar lagu-lagu mereka merupakan interpretasi musik blues dan folk yang diberi nuansa rock, termasuk rockabilly, reggae, soul, funk, jazz, musik klasik, musik Kelt, musik India, musik Arab, musik pop, musik Amerika Latin, dan musik country.

Led Zeppelin tidak pernah merilis singel dari lagu-lagunya yang menjadi populer di Britania Raya. Alasannya, mereka lebih menyukai konsep musik rock berorientasi album.
Setelah 25 tahun bubar akibat meninggalnya John Bonham pada tahun 1980, Led Zeppelin tetap disanjung penggemar musik berkat pencapaian artistik, kesuksesan komersial, dan pengaruhnya yang luas di kalangan musisi rock. Hingga saat ini, album Led Zeppelin telah laku lebih dari 300 juta keping,di antaranya, 109,5 juta keping laku di Amerika Serikat, dan menjadi satu-satunya grup musik yang berhasil menempatkan semua albumnya ke dalam urutan Top 10 tangga album Billboard. Selain itu, Led Zeppelin menempati urutan nomor satu dalam Daftar 100 Artis Hard Rock Terbesar (100 Greatest Artists of Hard Rock) versi VH1.

Pada 10 Desember 2007, tiga orang anggota Led Zeppelin mengadakan konser reuni yang dipersembahkan untuk Ahmet Ertegün di The O2, London


Studio albums

1. Led Zeppelin (1969)
2. Led Zeppelin II (1969)
3. Led Zeppelin III (1970)
4. Led Zeppelin IV (1971)
5. Houses of the Holy (1973)
6. Physical Graffiti (1975)
7. Presence (1976)
8. In Through the Out Door (1979)
9. Coda[128] (1982)

Filmography
1. The Song Remains the Same (1976)
2. Led Zeppelin (DVD) (2003)
3. Mothership (DVD) (2007)



1. Album pertama, Led Zeppelin di launching tanggal 12 Januari 1969


Track listing
Side one

1. "Good Times Bad Times"
2. "Babe I'm Gonna Leave You"
3. "You Shook Me"
4. "Dazed and Confused"

Side two

1. "Your Time Is Gonna Come"
2. "Black Mountain Side"
3. "Communication Breakdown"
4. "I Can't Quit You Baby"
5. "How Many More Times"



2. Album kedua, Led zeppelin II dirilis bulan Oktober 1969

Dengan Track Listing


1. "Whole Lotta Love"
2. "What Is and What Should Never Be"
3. "The Lemon Song"
4. "Thank You"

Side two

1. "Heartbreaker"
2. "Living Loving Maid (She's Just a Woman)"
3. "Ramble On"
4. "Moby Dick"
5. "Bring It On Home"



3. Album ketiga, Led Zeppelin III yang di edarkan 5 oktober 1970

Track listing
Side one

1. "Immigrant Song"
2. "Friends"
3. "Celebration Day"
4. "Since I've Been Loving You"
5. "Out on the Tiles"

Side two

1. "Gallows Pole"
2. "Tangerine"
3. "That's the Way"
4. "Bron-Y-Aur Stomp"
5. "Hats Off to (Roy) Harper"



4. Album keempat, Led zeppelin IV dirilis tanggal 8 November 1971

Track Listing

Side one

1. "Black Dog"
2. "Rock and Roll"
3. "The Battle of Evermore"
4. "Stairway to Heaven"

Side two

1. "Misty Mountain Hop"
2. "Four Sticks"
3. "Going to California"
4. "When the Levee Breaks"




5. Album Kelima, Houses of Holy, dirilis 28 maret 1973

Dengan Track Listing :


Side one
1. "The Song Remains the Same"
2. "The Rain Song"
3. "Over the Hills and Far Away"
4. "The Crunge"

Side two

1. "Dancing Days"
2. "D'yer Mak'er"
3. "No Quarter"
4. "The Ocean"




6. Album Keenam, Physical Graffiti dirilis tanggal 24 Februari 1975 merupakan dobel album

Dengan Track Listing

Side one

1. "Custard Pie"
2. "The Rover"
3. "In My Time of Dying"

Side two

1. "Houses of the Holy"
2. "Trampled Under Foot"
3. "Kashmir"

Side three


1. "In the Light"
2. "Bron-Yr-Aur"
3. "Down by the Seaside"
4. "Ten Years Gone"

Side four

1. "Night Flight"
2. "The Wanton Song"
3. "Boogie with Stu"
4. "Black Country Woman"
5. "Sick Again"




7. Album ketujuh, Presence dirilis 31 Maret 1976

Dengan Track Listing

Side one

1. "Achilles Last Stand"
2. "For Your Life"
3. "Royal Orleans"

Side two

1. "Nobody's Fault but Mine"
2. "Candy Store Rock"
3. "Hots On for Nowhere"
4. "Tea for One"






8. Album ke delapan, In Through the Out Door 15 agustus 1979

Dengan Track listing




Side One

1. "In the Evening"
2. "South Bound Saurez"
3. "Fool in the Rain"
4. "Hot Dog"

Side two

1. "Carouselambra"
2. "All My Love"
3. "I'm Gonna Crawl"


9.Album terakhir ke sembilan coda, yang dirilis 2 tahun setelah kematian sang legenda Drum John Bonham di tahun 1980.


Dengan Track Listing


Side One

1. "We're Gonna Groove (Live)"
2. "Poor Tom"
3. "I Can't Quit You Baby (Live)"
4. "Walter's Walk"


Side two


1. "Ozone Baby"
2. "Darlene"
3. "Bonzo's Montreux"
4. "Wearing and Tearing"


Itulah album-album sang Legenda Rock Led Zeppelin…silahkan berburu untuk melengkapi koleksinya.



Madiun, 19/08/2009
Arif Gumantia
Creator Grup Legenda Rock di FB
"Only Brave Heart Playing Rock"

Diskografi GOD BLESS

Album dengan Title God Bless ini adalah album pertama dari grup musik God Bless yang dirilis pada tahun 1975. Hits dalam album ini adalah lagu "Huma Di Atas Bukit" dan "Setan Tertawa".
Gaya permainan keyboard Jon Lord (Deep Purple), Rick Wakeman (Yes), maupun Tony Banks (Genesis) menyelinap dalam pola permaian Jockie Soerjoprajogo. Album God Bless ini patut dicatat sebagai album rock Indonesia yang tampil utuh. Karena sebelumnya, tercatat banyak grup rock Indonesia yang telah masuk dunia rekaman, tapi harus kompromi dengan selera pasar dengan memainkan musik pop, misalnya Freedom of Rhapsodia, The Rollies, AKA, Rasela, dan masih banyak lagi.

Dalam melodi lagu maupun aransemennya terdengar banyak kemiripan dengan lagu-lagu milik Genesis, Jethro Tull, Kin Ping Meh, Gentle Giant, Doobie Brothers, atau King Crimson. Kemungkinan ini terjadi karena selama malang melintang di panggung pertunjukan God Bless lebih banyak memainkan repertoar rock mancanegara.

Daftar Lagu
1. "Huma di Atas Bukit" (Donny Fattah / Sjuman Djaya) (Film Laela Majenun) - 5:05
2. "Rock di Udara" (Donny Fattah) - 4:52
3. "Sesat" (Donny Fattah / Sjuman Djaya) (Film Laela Majenun) - 5:35
4. "Eleanor Rigby" (John Lennon / Paul McCartney) (The Beatles cover) - 5:34
5. "Gadis Binal" (Ian Antono) - 4:08
6. "Friday On My Mind" (Easybeats) Easybeats cover - 6:40
7. "Setan Tertawa" (Donny Fattah) (Film Semalam di Malaysia) - 4:21
8. "She Passed Away" (Donny Fattah) - 6:33

1. Huma Di Atas Bukit dimulai dengan kombinasi permainan piano Jockie dan petikan gitar apik oleh Ian Antono, menyambut masuknya suara Achmad Albar yang dalam dan prima. Lagu yang indah ini pada dasarnya adalah sebuah kidung dengan struktur sederhana dengan permainan gitar yang baik oleh Ian Antono pada pertengahan lagu. Bila kita cermati terlihat adanya pengaruh permainan Steve Hacket dari grup Genesis sangat kuat pada aransemen lagu ini, sehingga ada kesamaan melodi dengan lagu Firth of Fifth dari album Selling England By The Pound milik grup Genesis.

2. Rock Di Udara menggambarkan situasi pada tahun 1970-an ditandai dengan adanya dua aliran musik yang saling bersaing. Di satu pihak ada pemuja musik rock 'n' roll (diwakili oleh Benny Subarja dari grup Giant Step dan grup musik rock lainnya. Di lain pihak ada pemuja musik "lokal" yaitu musik dangdut yang dimotori oleh H. Rhoma Irama. Persaingan ini cukup menegangkan dan mencapai puncaknya, terutama dengan adanya pengaruh dari majalah musik waktu itu Aktuil. Dalam lagu ini, God Bless menyerukan agar persaingan itu dihentikan. Aransamen musiknya sangat orisinal dengan kombinasi yang bagus antara permainan bass Donny Fattah, petikan gitar Ian Antono dan permainan keyboard dari Jockie Surjoprajogo menghasilkan komposisi musik rock progresif karena penuh dengan perubahan gaya sepanjang lagu walaupun akhirnya kembali ke versi awal lagu. Keyboard solo oleh Jockie bisa mengundang decak kagum.

3. Sesat adalah satu lagi dengan komposisi yang cukup orisinal yang dengan mudah bisa dinikmati oleh banyak orang. Lagu yang bagus ini penuh dengan kombinasi apik permainan gitar, keyboard untuk menemani kekuatan vokal paduan suara yang dipimpin oleh Ahmad Albar, didukung komposisi bass yang dinamis dari Donny. Ada permainan gitar solo yang sangat baik dari Ian disertai dengan permainan keyboard yang sangat seksi.

4. Eleanor Rigby, lagu karya Lennon/McCartney dari kelompok Beatles yang diaransemen ulang dengan sangat baik oleh God Bless menjadi satu komposisi yang berciri rock progresif, dengan banyak perubahan tempo dan melodi sepanjang lagu.

5. Gadis Binal mengisahkan kehidupan wanita pencari kesenangan duniawi – merupakan satu lagu rock dengan ritme yang baik yang terdiri dari gitar, keyboard dan bas serta permainan drum yang baik dari Teddy Sujaya. Walaupun gaya permainan gitar Ian Antono sangat mirip dengan permainan Tommy Bolin pada lagu Getting Tighter dari grup Deep Purple, aransemen lagu ini cukup asli, bebas dari pengaruh lagu lain. Sekali lagi, Donny menunjukkan petikan bass yang dinamis sepanjang lagu.

6. Friday On My Mind milik kelompok EasyBeat dari Australia diaransemen ulang oleh God Bless yang dipadukan dengan sangat pas dengan melodi gitar dari lagu Thick As A Brick milik Jethro Tulls dan dari lagu Dancing With The Moonlight Knight milik Genesis. Walaupun bukan lagu asli God Bless tetapi sangat menyenangkan, dengan sentuhan yang sangat khas God Bless.

7.Setan Tertawa berisi pesan tentang keresahan kalangan muda tentang keserakahan manusia lalu mencari jalan keluar lewat narkoba atau perjudian. Dimulai dengan permainan drum yang dinamis oleh Teddy Sujaya disusul dengan lengkingan gitar Ian Antono, yang saling mengisi dengan bass dan drum. Ada kesamaan pola dengan bagian intro lagu Valedictory milik Gentle Giants. Dengan sering berubahnya gaya dan tempo musiknya, lagu ini termasuk pada kelompok rock progresif. Penuh energi dan daya dengan potongan-potongan transisi kompleks pada berbagai bagian lagu dengan perubahan yang tidak terduga. Dari segi permainan drum, di sini Teddy Sujaya memainkan komposisi drum terbaik dari seluruh lagu dalam album ini.

8. She Passed Away adalah lagu penutup dari album ini. Lagu bercerita tentang seseorang yang kehilangan seorang kekasih yang walau hanya seorang wanita sederhana tetapi sulit dicari penggantinya. Lagu yang indah ini dinyanyikan dengan suara prima oleh dari awal sampai akhir lagu – diiringi petikan gitar dan bass, masing-masing oleh Ian dan Donny. Pada bagian tengah lagu, ada sisipan bagian dari lagu The Musical Box milik grup Genesis.

God Bless kemudian merilis ulang beberapa lagu dari album ini dengan aransemen baru, yaitu lagu Huma Di Atas Bukit, Sesat, Setan Tertawa dan She Passed Away yang dirilis pada album kompilasi The Story Of God Bless.
Personil :
• Achmad Albar : lead vocal
• Ian Antono : backing vocal, lead guitar
• Donny Fattah : backing vocal, bass guitar
• Teddy Sujaya : drum
• Jockie Surjoprajogo : Keyboards
Dirilis tahun 1975 Dengan Label Pramaqua.

Diskografi Sylvia Sartje (Former Lady Rockers)

Jauh sebelum booming istilah lady rockers di dasawarsa 80-an yang melekat pada sosok, seperti Nicky Astria, Nike Ardilla, Mel Shandy, Ita Purnamasari, Yosie Lucky, Ayu Laksmi, Atiek CB, Lady Avisha, Cut Irna, dan masih sederet panjang lainnya.
Nicky Astria dan kawan-kawan patut berterima kasih kepada Sylvia Saartje yang bisa dianggap sebagai pembuka jalan bagi mencuatnya penyanyi rock wanita.. Sylvia Saartje, wanita berdarah Maluku - Belanda yang dilahirkan 15 September 1957 di Arnhem, Belanda.
bagi penggemar musik rock era 70-an, Sylvia Saartje yang kerap dipanggil dengan nama kesayangan Jippie ini adalah daya tarik sebuah pentas pertunjukan rock yang saat itu didominasi oleh para pemusik lelaki. Bisa dibilang, Sylvia Saartje berlenggang sendirian dalam kancah musik rock Indonesia.

ketika majalah anak muda terbitan Bandung, Aktuil menggelar pertunjukan beraroma keras bertajuk Vacancy Rock pada 1972, Sylvia tercatat sebagai satu-satunya artis wanita yang berjingkrak-jingkrak meneriakkan lagu-lagu rock. Saat itu, ia dianggap pas melantunkan repertoar milik grup legendaris Led Zeppelin. Rasanya hanya Sylvia jualah yang pas menghayati nuansa blues milik almarhumah Janis Joplin.
Bahkan, di tahun 1974 dalam sebuah pertunjukan musik rock di kampus Universitas Padjadjaran Bandung, Sylvia mendapat sambutan luar biasa ketika menyanyikan lagu Pink Floyd dari album Dark Side of The Moon bertajuk 'The Great Gig in The Sky'. Penampilan vokalnya nyaris sempurna.Seperti kita ketahui, Komposisi milik Pink Floyd ini tergolong tidak mudah untuk dinyanyikan kalau tidak punya kualitas Vokal yang prima. Saat itu secara tidak langsung penonton langsung membandingkan vokal Sylvia dengan Claire Tory, artis wanita yang menjadi penyanyi tamu dalam album Pink Floyd.


Bakat menyanyi mulai terlihat sejak kecil tatkala Sylvia Saartje aktif tergabung dalam paduan suara gereja. Dalam usia 10 tahun, dia pun telah memberanikan diri mengikuti ajang Bintang Kecil di RRI Malang, Jawa Timur. Sylvia memang memilih musik sebagai pilihan hidup. Ketika berusia 11 tahun, dia mulai diajak bergabung sebagai vokalis band Tornado. ''Saya bergabung dengan Tornado dari tahun 1968 hingga 1970,'' ungkapnya. Di tahun 1970, ia mulai mengukir prestasi dengan masuk sebagai 10 besar finalis Lomba Bintang Radio se-Provinsi Jawa Timur.
Walaupun berkutat dengan musik pop, namun, nurani Sylvia bergelegak dalam pusaran dinamika musik rock. Memasuki dasawarsa 70-an, seniman ini mulai terlihat fokus menyanyikan repertoar rock dengan diiringi sederet grup musik yang berada di Jawa Timur, mulai dari The Gembell's, Bentoel, Avia's, Elfira, Bad Session, Oepet, Arfack Band, dan banyak lagi.

Di samping memilih jalur musik rock, Sylvia Saartje pun mengembangkan bakat seni peran yang dimilikinya. Pada tahun 1972, sutradara Ostian Mogalano mengajak Sylvia ikut bermain dalam film laga bertajuk Tangan Besi.
Pada dasawarsa 80-an, Sylvia banyak terlibat dalam beberapa film layar lebar, di antaranya mendapat peran utama dalam film Gerhana (1985)

Di tahun 1976, wartawan Mashery Mansyur berniat membentuk band rock wanita. Lalu menyatulah nama-nama, seperti Sylvia Saartje (vokal), Reza Anggoman (keyboards), Rini Asmara (drums), Senny (bass), Lis April (gitar), dan Lenny (gitar) dalam sebuah band dengan nama The Orchid. Sayangnya, usia grup ini tidak panjang. Setelah dikontrak bermain di beberapa tempat, The Orchid pun dinyatakan bubar. ''Walau gagal dalam membentuk band, tapi semangat bermusik saya tak pernah pudar,'' ujar Sylvia Saartje.

Setahun kemudian, Ian Antono, gitaris God Bless, menawarkan solo karier bagi Sylvia pada perusahaan rekaman Irama Tara. ''Saya merasa senang luar biasa. Apalagi yang mengajak saya adalah Ian Antono, pemusik rock ngetop yang seasal dengan saya, yaitu Malang. Tuturnya "Saat itu, Ian Antono baru saja sukses menggarap album Duo Kribo di perusahaan Irama Tara. Ternyata album bertajuk Biarawati berhasil sukses di pasaran. Lagu ini sering diputar di berbagai radio swasta di penjuru Nusantara".
kerja sama dengan Ian Antono hanya berlangsung di album perdana saja. album-album solo Sylvia Saartje lainnya didukung banyak pemusik berkualitas, semisal Jopie Item, Christ Kaihatu, Farid Hardja, Country Jack, Debby Nasution, dan Totok Tewel. Sejak tahun 1997, praktis Sylvia Saartje memang belum pernah merilis album baru lagi. ''Tapi, saya terus menulis lagu.''
Musik memang telah menyatu dalam pembuluh nadinya.
DISKOGRAFI

1. Biarawati - Irama Tara 1978
2. Kuil Tua - Irama Tara 1979
3. Puas - Irama Tara 1981
4. Mentari Kelabu - Irama Tara 1982
5. Ooh! (Irama Tara 1983)
6. Jakarta Blue Jeansku (Irama Tara 1984)
7. Gerhana (Insan Record 1986)
8. Take Me with You (Logiss Record 1994)
9. Berdayung Sampan (SKI 1995)
10. Skali Lagi! (SKI 1996)

FILMOGRAFI

1. Tangan Besi (PT Garuda Film,1972) aktris
2. Barang Antik (PT Kalimantan Film 1983) aktris
3. Gerhana (PT Inem Film 1985) aktris/Music Score
4. Kodrat (PT Multi Permai Film 1986) aktris


Saya teringat saat SMP sering mendengarkan Lagu Jakarta Blue Jeansku, yang sering diputar oleh om saya yang kuliah di malang.
"Jakarta Blue Jean ku" merupakan salah satu album dari kesepuluh album milik Sylvia Saartje. Berisi 11 lagu berirama pop rock dengan beberapa yang di variasikan dengan musik disko yang kala itu digemari muda-mudi Jakarta.

Tembang yang menjadi label album ini, "Jakarta Blue Jeans ku" karya Almarhum Farid Hardja sukses dibawakan Sylvia Saartje. Dengan irama Slow dan suara khas Sylvia Saartje yang melengking tinggi membuat lagu ini jadi hit di radio-radio juga.
Tidak kalah kerennya tembang kedua,"Damailah Kau Disana" karya Aribowo. Garapan musiknya sederhana, dengan paduan Gitar dan keyboards namun, kepiawaian Sylvia menyanyikan menjadikan nilai lagu ini lebih berbobot.

Yang tidak disangka adalah tembang MR Radio yang lebih didominasi irama disko. Maklum saja, lagu ciptaan Emier Hassany, dinilai bisa lebih dijual karena fenomena aliran musik jojing ini sedang digandrungi anak muda di Ibukota. Dengan intro suara radio, dan disusul dengan teriakan Sylvia menjadi nilai kreatif untuk lagu ini.

Memang benar jika ada yang bilang, musik rock era 70-an banyak dipengaruhi musiknya super band Led Zeppelin dan Deep Purple, ini juga yang terdengar pada tembang "Kembalilah" karya Farid Harja , juga pada lagu "Hujan" hasil karya Hassany.

Satu lagu karya Eddy CJ,bertitel "Gairahkan" mengusung irama Jazz. Oleh sang penciptanya, tembang ini diawali dengan nuansa Pop.

Jika anda ingin menikmati alunan Janis Joplin-nya Indonesia, pada lagu "Seandainya" dibawakan dengan sukses oleh Sylvia Saartje. Hentakan pada intro lagu diikuti dengan petikan gitar berintonasi lambat menjadikan lagu ini nge-blues.


Album dibawah label PT Irama Tara Jakarta ini layak menjadi koleksi para penggemar musik Indonesia,


Artist : Sylvia Saartje
Judul Album : Jakarta Blue Jeans ku
Label :Irama Tara

foto : http://indorockstar.blogspot.com/2009/01/sylvia-saartje.html dan

http://www.indonesiantunes.com/oldies/detail/2008/08/04/jakarta-blue-jeans-ku.html


artikel dikumpulkan dari sumber :
- tulisan pengamat musik denny sakrie di replubika 24 september 2007
- www.indonesiantunes.com
- pendapat pribadi.

Diskografi GRASS ROCK

Grass Rock, Band asal kota buaya Surabaya ini didirikan tahun 1984.
di gawangi oleh Rere (drum), Edi Kemput (gitar), Yudhie Adjie (bass), Zoel (vocal) dan Alm Dayan (vocal), tidak hanya di daerah asalnya, Surabaya, namun di kancah musik nasional band ini sangat disegani. Musik yang hebat dan lirik puitisnya banyak digemari oleh pecinta musik Indonesia.

Selama perjalanan karier bermusik, band asal Surabaya ini telah merilis empat album, yakni: Anak Rembulan (1990) dengat hitnya Anak Rembulan, selamat pagi tragedy dan lepaskan.
Album kedua Bulan Sabit (1992) dengan hitnya Gadis Tersesat, Bersamamu, dan Blues untuk sodomi.
Album Grass Rock (1994) dengan hitnya Datang Padaku dan Lingkaran dan terakhir Album Menembus Zaman (1999) yang antara lain berisi lagu Adakah Hasrat.


Grass Rock muncul sebelum band seperti Boomerang merajai dan masuk panggung nasional. Boleh dibilang, Grass Rock lebih dulu bermain di blantika musik Indonesia.


Belum sempat berdiri di puncak, Dayan sang vokalis meninggal. Kematian Dayan meninggalkan segudang pertanyaan. Ada yang mengatakan kematian Dayan Zmach tahun 1999 akibat overdosis. Namun, ada juga yang bilang kematian Vokalis bersuara tinggi itu karena sakit.

Sepeninggal Dayan, perlahan nama Grass Rock tenggelam. Kreatifitas bermusik mereka mandeg. Tak adalagi syair puitis yang tercipta seperti ketika masih ada Dayan,"Tadinya kita berpikir untuk mengakhiri perjalanan Grass Rock sampai di situ. Bukan bubar, tetapi kita tutup semua langkah dan kenangan kita," kata Yudhi Adjie, pembetot bass group tersebut. "Kehilangan Dayan sangat kami rasakan," tambahnya.

Kita Tunggu Kehadiran Grass Rock kembali di Blantika Musik Rock!





Madiun, 4/09/2009
Arif Gumantia
creator grup legenda Rock Di Facebook.
'Only brave heart playing Rock'

Diskografi The DOORS

The Doors dibentuk di Los Angeles 1960 oleh Ray Manzarek, Jim Morrison, John Densmore, dan Robby Krieger. Nama The Doors mereka ambil dari judul buku The Doors of Perception.

Tahun 1967, album pertama mereka pun dirilis dengan judul THE DOORS. Album ini direkam hanya dalam beberapa hari karena sebagian besar lagu direkam secara live dan hanya dalam satu kali rekam. Album ini sukses dalam penjualan dan berhasil meraih 5 platinum.

Dalam waktu singkat The Doors naik menjadi grup band papan atas. Aksi panggung dan karisma Jim Morrison menjadi daya tarik tersendiri buat The Doors. Lirik puitis yang kadang sulit dimengerti menjadi ciri khas lagu-lagu The Doors.

5 album yang dirilis kemudian selalu mencapai angka penjualan yang tinggi dan mendapat platinum. Album ke 5 mereka L.A WOMAN bahkan mencapai doble platinum. Namun kesuksesan itu akhirnya harus surut juga.

Tahun 1971, saat berlibur di Perancis, Jim Morrison ditemukan tewas di dalam bak mandi di kamar hotelnya. Sampai sekarang belum ada kepastian tentang penyebab kematian Jim karena belakangan diketahui bahwa Jim dimakamkan di Perancis tanpa menjalani proses otopsi.

Setelah kematian Jim Morrison, The Doors tetap eksis dan sempat menelurkan 2 album lagi. Sektor vokal yang kosong diisi oleh Krieger dan Manzarek. Dua album ini tidak berhasil mengulang sukses album-album sebelumnya. Namun saat The Doors menemukan rekaman suara Jim Morrison membacakan puisi sesaat sebelum meninggal dan mencoba menambahkan musik dan merilisnya dalam album AN AMERICAN PRAYER, tingkat penjualan album kembali melonjak.

Dengan formasi terakhir Brett Scallions, Robby Krieger, Ray Manzarek, Ty Dennis, dan Phil Chen, The Doors tetap menjadi grup musik legendaris.

Diskografi:

• 1967 - The Doors
• 1967 - Strange Days
• 1968 - Waiting for the Sun
• 1969 - The Soft Parade
• 1970 - Morrison Hotel
• 1971 - L.A. Woman
• 1971 - Other Voices
• 1972 - Full Circle
• 1978 - An American Prayer



Album The Doors Dirilis januari 1967

Side One
1. "Break On Through (To the Other Side)" – 2:29
2. "Soul Kitchen" – 3:35
3. "The Crystal Ship" – 2:34
4. "Twentieth Century Fox" – 2:33
5. "Alabama Song (Whisky Bar)" (Bertolt Brecht, Kurt Weill) – 3:20
6. "Light My Fire" – 7:06
Side two
1. "Back Door Man" (Willie Dixon) – 3:34
2. "I Looked at You" – 2:22
3. "End of the Night" – 2:52
4. "Take It as It Comes" – 2:17
5. "The End" – 11:41

Album Strange Days Dirilis akhir 1967

Side one
1. "Strange Days" – 3:11
2. "You're Lost Little Girl" – 3:03
3. "Love Me Two Times" – 3:18
4. "Unhappy Girl" – 2:02
5. "Horse Latitudes" – 1:37
6. "Moonlight Drive" – 3:05
Side two
1. "People Are Strange" – 2:13
2. "My Eyes Have Seen You" – 2:32
3. "I Can't See Your Face in My Mind" – 3:26
4. "When the Music's Over" – 10:58

Album Waiting for the Sun Dirilis 1968

Side one
1. "Hello, I Love You" – 2:14
2. "Love Street" – 2:53
3. "Not to Touch the Earth" – 3:56
4. "Summer's Almost Gone" – 3:22
5. "Wintertime Love" – 1:54
6. "The Unknown Soldier" – 3:23
Side two
1. "Spanish Caravan" – 3:03
2. "My Wild Love" – 3:01
3. "We Could Be So Good Together" – 2:26
4. "Yes, the River Knows" – 2:36
5. "Five to One" – 4:26

Album The Soft Parade Dirilis 1969

Side one
1. "Tell All the People" (Robby Krieger) – 3:23
2. "Touch Me" (Krieger) – 3:12
3. "Shaman's Blues" (Jim Morrison) – 4:49
4. "Do It" (Morrison, Krieger) – 3:08
5. "Easy Ride" (Morrison) – 2:41
Side two
1. "Wild Child" (Morrison) – 2:38
2. "Runnin' Blue" (Krieger) – 2:33
3. "Wishful Sinful" (Krieger) – 3:02
4. "The Soft Parade" (Morrison) – 8:37

Album Morrison Hotel Dirilis 1970

Side one: "Hard Rock Cafe"
1. "Roadhouse Blues" (Jim Morrison, The Doors) – 4:03
2. "Waiting for the Sun" (Morrison) – 3:58
Begun during The Doors' sessions for Waiting for the Sun in 1968
3. "You Make Me Real" (Morrison) – 2:53
4. "Peace Frog" (Morrison, Robby Krieger) – 2:51
5. "Blue Sunday" (Morrison) – 2:13
6. "Ship of Fools" (Morrison, Krieger) – 3:08
Side two: "Morrison Hotel"
1. "Land Ho!" (Morrison, Krieger) – 4:10
2. "The Spy" (Morrison) – 4:17
3. "Queen of the Highway" (Morrison, Krieger) – 2:47
4. "Indian Summer" (Morrison, Krieger) – 2:36
o Outtake from The Doors' debut album sessions, recorded in August 1966
5. "Maggie M'Gill" (Morrison, The Doors) – 4:23

Album L.A. Woman Dirilis april 1971

Side one
1. "The Changeling" – 4:21
2. "Love Her Madly" – 3:20
3. "Been Down So Long" – 4:41
4. "Cars Hiss By My Window" – 4:12
The 2007 remaster includes an additional verse making it 4:58.
5. "L.A. Woman" – 7:49
The 2007 remaster includes several seconds of intro and conclusion making it 7:59
Side two
1. "L'America" – 4:37
2. "Hyacinth House" – 3:11
3. "Crawling King Snake" (Tony Hollins, Bernard Besman, John Lee Hooker) – 5:00
4. "The WASP (Texas Radio and the Big Beat)" – 4:16
5. "Riders on the Storm" – 7:09

Album Other Voices Dirilis 1971

Side one
1. "In the Eye of the Sun" – 4:48
2. "Variety Is the Spice of Life" – 2:50
3. "Ships with Sails" – 7:38
4. "Tightrope Ride" – 4:15
Side two
1. "Down on the Farm" – 4:15
2. "I'm Horny, I'm Stoned" – 3:55
3. "Wandering Musician" – 6:25
4. "Hang On to Your Life" – 5:36

Album Full Circle Dirilis 1972

Side one
1. "Get Up and Dance" (Krieger, Manzarek) – 2:25
2. "4 Billion Souls" (Krieger) – 3:18
3. "Verdilac" (Krieger, Manzarek) – 5:40
4. "Hardwood Floor" (Krieger) – 3:38
5. "Good Rockin" (Roy Brown) – 4:22
Side two
1. "The Mosquito" (Densmore, Krieger, Manzarek) – 5:16
2. "The Piano Bird" (Conrad, Densmore) – 5:50
3. "It Slipped My Mind" (Krieger) – 3:11
4. "The Peking King and the New York Queen" (Manzarek) – 6:25

Album American prayer Dirilis 1978

Side one
1. "Awake" – 0:36
2. "Ghost Song" – 4:13
3. "Dawn's Highway / Newborn Awakening" – 3:48
4. "To Come of Age" – 1:02
5. "Black Polished Chrome / Latino Chrome" – 3:22
6. "Angels and Sailors / Stoned Immaculate" – 4:20
7. "The Movie" – 1:36
Side two
1. "Curses, Invocations" – 1:58
2. "American Night" – 0:29
3. "Roadhouse Blues" – 6:59
4. "Lament" – 2:19
5. "The Hitchhiker" – 2:16
6. "An American Prayer" – 6:53
o "The End"
o "Albinoni: Adagio"

by : Arif Gumantya
LEGENDA ROCK

Cermin by GOD BLESS

Cermin adalah album kedua dari grup musik God Bless yang dirilis pada tahun 1980.
Saya teringat waktu masih SD mendengarkan kaset God Bless ini, karena Om saya sudah SMA, setiap hari pasti menyetel album cermin ini. Dan Album inilah album Favorit saya sampai sekarang, hamper setiap hari pasti saya stel, baik lewat PC maupun MP3 Player, sungguh sebuah album yang dahsyat baik dari segi musikalitasnya maupun kekuatan liriknya.

Album ini penuh dengan nuansa rock progressif yang rumit dengan menonjolkan kemahiran tiap personil memainkan instrumen musiknya melalui aransemen yang jelimet. Beberapa lagu menjadi sangat panjang melampaui panjang lagu rata-rata (3 - 4 menit) pada saat itu. 'Anak Adam' yang merupakan lagu terpanjang (11 menit 59 detik) penuh dengan atraksi ketrampilan tiap-tiap personilnya.

Album ini melawan arus industri musik saat itu. Dengan konsep rock progresif seperti itu, album ini dianggap lahir mendahului jamannya. Konsumen tidak siap menerimanya. Akibatnya Cermin merupakan album God Bless yang paling jeblok penjualannya. Tetapi, secara pencapaian estetika musik, Cermin melampaui album God Bless manapun.

Album ini yang paling banyak dicari para kolektor, sayangnya Cermin adalah satu-satunya album God Bless yang belum pernah dirilis ulang dalam bentuk CD. Master rekaman yang semula dimiliki JC Records kini dimiliki oleh Logiss Record.. Belum diketahui mengapa Logiss Record belum mengeluarkan rilis ulang dari album yang dicari oleh banyak kolektor ini.
Album kompilasi 18 Greatest Hits of God Bless memuat 3 lagu hasil remaster dari album ini

Daftar Lagu

Side A
1. "Cermin" (Donny Fattah) - 6:17
2. "Selamat Pagi Indonesia" (Ian Antono) - 6:16
3. "Musisi" (Donny Fattah) - 4:26
4. "Balada Sejuta Wajah" (Ian Antono) - 3:36
5. "Sodom & Gomorah" (Ian Antono) - 4:07

Side B
1. "Anak Adam" (Benny Likumahuwa/ Donny Fattah) - 11:59
2. "Insan Sesat" (Abadi Soesman) - 5:53
3. "Ingat" (Donny Fattah) - 6:44
4. "Tuan Tanah" (Ian Antono) - 2:06

Cermin mengawali album ini dengan komposisi berbasis balada, dengan awalan musik bermelodi indah yang dilanjutkan dengan aransemen keyboard / piano yang kaya improvisasi dan inovatif oleh Abadi Soesman mengiringi suara bening Ahmad Albar. Petikan gitar yang mantap dari Ian Antono mengisi berbagai segmen pada lagu ini. Mengikuti dinamisnya aliran musik, permainan drum yang solid oleh Teddy Sujaya mempertegas struktur lagu ini. Sungguh suatu lagu berirama rock progresif yang sangat baik.

Selamat Pagi Indonesia, lagu ini pas sekali jika dinikmati di pagi hari, setelah bangun tidur, mengalir indah seperti pada lagu pertama, dengan permainan keyboard / piano oleh Abadi Soesman dan dipadu dengan permainan gitar akustik oleh Ian Antono. Musiknya banyak diisi oleh suara bening Achmad Albar dan suara gitar akustik. Musiknya mengalir dinamis dalam tempo sedang dengan kombinasi harmonis antara gitar & keyboard. Permainan drum yang solid dan sangat variatif dari Teddy Sujaya mengisi lagu ini dengan pas. Lagi ini adalah satu lagu rock progresif yang sangat baik

Musisi, saat diwawancarai Metro TV, Donny Fatah bercerita bagaimana awal penciptaan lagu ini, saat dirinya mengalami dilemma antara terus berkarir dalam dunia musik atau kerja kantoran…dan lahirlah lagu dahsyat ini, mungkin adalah lagu rock progresif terbaik yang pernah dibuat oleh God Bless! Diawali dengan permainan solo bass "berjalan" Donny Fattah yang menjadi penentu warna musik lagu ini. Petikan rhythm guitar dari Ian Antono mengikut petikan bass solo tadi, lalu dilanjutkan dengan masuknya dentuman drum oleh Teddy Sujaya serta permainan keyboard Abadi Soesman. Setelah suara bening & mantap yang khas dari Ahmad Albar masuk, musik berubah semakin rumit oleh bunyi instrumen yang saling mengisi antar gitar, bass, keyboard dan drum. Dalam lagu Ian, Donny, Abadi dan Teddy mendemonstrasikan keahlian masing-masing memainkan instrumen musiknya. Luar biasa! Paduan suara Ahmad Albar ditopang oleh permainan apik Ian Antono dan Donny Fattah menghasilkan paduan yang harmonis. Musisi adalah lagu yang memacu adrenalin, dimainkan dalam tempo cepat dengan aransemen musik yang hebat.

Balada Sejuta Wajah adalah lagu balada yang enak didengar, kombinasi yang harmonis antara melodi yang menyenangkan, vokal yang mantap dan musik yang bergaya orkestra. Bayangkan bagian interlude lagu ini diisi dengan keyboard yang dimainkan bagai orkestra. Selain komposisinya bagus, lirik lagunya juga puitis dengan pesan yang kuat penuh perenungan "Mengapa, semua berkejaran dalam bising, mengapa oh mengapa sejuta wajah engkau libatkan dalam himpitan kegelisahan, Adakah hari esok makmur sentosa bagi wajah-wajah yang menghiba?"

Sodom & Gomorah adalah sebuah lagu rock dengan aransemen yang rumit bahkan sejak awal lagu. Bagian awal lagu ini mengingatkan orang dengan musik ELP. Bagian tengah lagu sangat menarik karena God Bless memasukkan unsur musik jazz ke dalam musik rock dalam tempo tinggi dan warna musik yang rumit. Bagian tengah lagu mengingatkan orang pada musik dari grup Kansas.

Anak Adam adalah lagu terpanjang dalam album ini, Awal lagu dimulai dengan aransemen yang mengingatkan orang pada musik Kansas tetapi kemudian segera beralih ke nuansa musik gamelan Bali dalam tempo tinggi. Peralihan ke musik gamelan Bali terasa sangat pas. Abadi Soesman mendemonstrasikan teknik bermain keyboard tingkat tinggi dalam lagu ini, walaupun ada nuansa musik grup Kansas. Ian Antono dengan grup Gong 2000-nya kemudian merilis ulang lagu ini, dengan aransemen tanpa dipengaruhi musik grup Kansas.

Insan Sesat, satu lagi lagu balada, kali ini dengan aransement yang lebih sederhana dibanding dua lagu balada lain dalam album ini. Abadi Soesman berperan penting di sini dalam mengiringi vokal Ahmad Albar. Balada yang indah.

Ingat adalah sebuah lagu dengan bangunan sederhana, dimainkan dengan tempo sedang, dengan lirik yang memberi pesan moral tentang menghadapi kehidupan. Ada permainan piano / keyboad dan permainanan gitar solo yang apik dalam lagu ini.

Tuan Tanah mengakhiri album ini, dengan gaya acapella yang baik oleh Ahmad Albar, Donny Fattah dan Ian Antono.

Personil

• Achmad Albar : vocalist
• Ian Antono : gitar
• Donny Fattah : bass
• Teddy Sujaya : drums, percussion
• Abadi Soesman : keyboards


Terbit 1980 Direkam Genre Rock Panjang 51:34 Label Billboard Indonesia.



*Artikel diambil dari Wikipedia, berbagai majalah dan koran, dan juga pendapat pribadi.