Senin, 01 Maret 2010

Detik detik menegangkan Bail Out Century

VIVAnews - Detik-detik menegangkan pada saat puncak krisis finansial 2008 masih melekat kuat di benak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Meskipun pada saat pengambilan keputusan pengambilalihan PT Bank Century Tbk Presiden SBY berada di luar negeri, dia menilai kebijakan yang diambil Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia (BI) saat itu, Boediono, benar.

Yudhoyono berkisah, saat itu, pada 13 November 2008, dia berangkat dengan rombongan menuju Washington DC. Pada saat transit di Tokyo, terjadi kecemasan.

Rombongan yang satu pesawat ada yang minta pulang kembali ke Jakarta, ada yang tetap ikut.
"Teman-teman berkata ini lanjut atau kembali ke Jakarta. Saya tanya ke Pak Hatta yang menjadi Mensesneg tidak tahu situasinya," kata SBY di Istana Merdeka, Jakarta, Senin 1 Maret 2010.

Pada saat itu, Gubernur Bank Indonesia Boediono, tidak jadi ikut mendampingi Yudhoyono agar lebih fokus mengurus permasalahan di dalam negeri.

Sementara itu, ketika sampai di Amerika Serikat, Menkeu Sri Mulyani meminta izin agar tidak ikut ke pertemuan APEC, dan kembali ke Indonesia.

"Saya setuju, saya hargai inisiatif seperti itu," ujarnya.

Menurut SBY, dirinya belum mendapatkan info ada 1-3 bank bermasalah. Namun, SBY berpesan kepada Sri Mulyani agar Indonesia jangan jatuh seperti 1998 dan jangan kembali jatuh ke Dana Moneter Internasional (IMF).

"Itu adalah situasi hari-hari yang mencemaskan dan menegangkan. Semua pemimpin dunia di Eropa, Amerika Utara, dan 20 kepala negara semua memang gamang, cemas," ujarnya.

Yudhoyono berada di luar negeri selama 13 hari hingga 26 November 2008. Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menangani pemerintahan sehari-hari.

SBY menegaskan, meskipun dirinya tidak berada di Tanah Air dan tidak ikut mengambil keputusan, kebijakan menyelamatkan Bank Century untuk menyelamatkan perbankan dan perekonomian adalah keputusan yang benar.

"Meski tidak harus meminta persetujuan saya, semua bergerak cepat, yang dilakukan untuk menyelamatkan ekonomi benar," tuturnya.

arinto.wibowo@vivanews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar