Selasa, 13 Oktober 2009

Makna Kupat dan Janur Lebaran

Sebuah ajaran yang di sampaikan sunan bonang melalui symbol budaya jawa. Menurut sunan bonang, kita harus berpuasa dengan ikhlas dan hanya mencari ridho Tuhan agar setelah puasa bisa menikmati kupat. “kupat” adalah makanan khas saat lebaran. Berupa nasi putih yang di masak di dalam janur. “janur” di sini adalah daun kelapa yang masih muda.



Sunan bonang mengartikan kupat sebagai laku sing papat atau empat keadaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang yang berpuasa dengan keikhlasan dan kesungguhan. Yaitu : Lebar, Lebur, Luber, dan Labur. Lebar berarti telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan. Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, Luber berarti melimpah ruah pahala amal-amalnya. Dan Labur berarti bersih dirinya dan cerah-bercahaya wajah dan hatinya.



Sedangkan “janur” sendiri diartikan oleh beliau sebagai Jatining Nur, dalam pengertian kalau kita dapat berpuasa dengan penuh keyakinan dan keteguhan sikap (iman) dan penuh perhitungan serta kehati-hatian (ihtisaab) pada bulan syawal kita akan mendapat jatining Nur.



Jatining nur inilah yang sejatinya di sebut fitrah. Memperoleh jatining nur berarti telah kembali ke Fitrah. Yang akan ditandai dengan perubahan perilaku dari yang semula tidak baik menjadi baik dan semula baik menjadi lebih baik lagi. Mereka yang kembali ke fitrah dengan “jatining nur” dan “laku sing papat” adalah mereka yang tawadhu’, jauh dari kesombongan, dan tidak mau bersikap sewenang-wenang atau melanggar hak orang lain seperti korupsi misalnya, baik korupsi materi maupun korupsi perilaku.



Jadi orang yang mendapat “jatining nur” dan “laku sing papat” adalah orang yang lembut dan santun terhadap sesame umat tetapi sekaligus tegas dan berani melawan ketidak adilan. Masing-2 diri kitalah yang dapat menentukan apakah kita berpuasa untuk meraih “jatining nur” dan “laku sing papat” ataukah hanya menjadikannya sebagai basa-basi agar tercitrakan sebagai orang yang saleh.







*artikel ini merupakan rangkuman dari tausiyah Moh. Mahfud M.D.(ketua MK)





Madiun, 2/10/2009

Arif Gumantia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar